Menguak Nilai Seni Tradisi Sebagai Inspirasi Penciptaan Seni Pertunjukan Pada Era Global

Kiriman : Dyah Kustiyanti ( Mahasiswa ISI Denpasar )

ABSTRAK 

Tradisi biasanya didefinisikan sebagai cara mewariskan pemikiran, pandangan hidup, kebiasaan, kepercayaan, kesenian, tarian, upacara, dari generasi ke generasi, dari leluhur ke anak cucu, secara lisan (Poerwadarminta, 1985: 1088). Tradisi yang diterima akan menjadi unsur yang hidup dalam kehidupan pendukungnya. Tradisi ini akan tetap dilakukan dan diteruskan selama para pendukungnya masih melihat manfaat dan menyukainya. Suka atau tidak generasi penerima akan hidup di tengah-tengah tradisi, masyarakat, pola pikir, maupun karya seni masa lalu. Rendra (dalam Murgiyanto 2004: 2) mengungkapkan, bahwa tanpa tradisi pergaulan bersama akan kacau, dan hidup manusia akan bersifat biadab…, namun demikian nilainya sebagai pembimbing akan merosot apabila tradisi mulai bersifat absolut. Dalam keadaan serupa ia tidak lagi menjadi pembimbing, melainkan menjadi penghalang bagi pertumbuhan pribadi dan pergaulan bersama yang kreatif.

Seni tradisi menyediakan bahan baku yang luar biasa banyak, meliputi aspek “spiritual” (semangat, nilai, simbol) dan aspek “material” (fisik: struktur, alur, gerak, penokohan), yang setiap saat siap untuk diciptakan kembali. Seni tradisi tidak akan pernah habis untuk dikupas sebagai sumber acuan penciptaan di masa mendatang, karena di dalamnya tidak saja mengandung beragam cabang seni, seperti seni drama, tari, karawitan, lukis, sastra, tata cahaya, tata suara, akan tetapi juga memuat nilai-nilai filsafat yang dalam, sekaligus sebagai tuntunan budi pekerti yang luhur dan ajaran hidup yang lebih baik lagi. Sebagai wujud kreativitas seni, sudah pasti seni tradisi memiliki nilai-nilai yang adiluhung.

Pertanyaan yang muncul sekarang adalah apakah nilai-nilai dalam seni tradisi masih relevan dan bermanfaat untuk menyikapi kehidupan dunia modern masa kini? Dalam hal ini diperlukan kecerdasan dan kearifan dalam mengelola, menyikapi, serta memahami seni tradisi dalam rangka mengisi dunia global. Oleh karena menyangkut masalah nilai-nilai yang esensial, maka sudah menjadi tugas dan kewajiban seniman untuk terus berusaha mencari bentuk kreativitas, alternatif garapan dengan kedalaman nilai yang sekiranya mampu  bertahan menjangkau masa depan.

Memasuki era global, era yang penuh tantangan dan persaingan, setiap seniman perlu meningkatkan keahliannya, agar tetap eksis di tengah-tengah persaingan tersebut. Untuk menjadi seorang seniman tari, karawitan, maupun pedalangan yang baik, tuntutan kreativitas, wawasan luas, kecerdasan, dan pengetahuan menjadi sangat krusial, agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Sebagai seni tradisi yang memiliki kemungkinan untuk diciptakan kembali, bentuk sastra tradisi dan tari tradisi mempunyai peluang dan kemungkinan yang luas sebagai sumber inspirasi/ ide penciptaan seni lainnya. 

Selengkapnya dapat unduh disini

Sejarah Lahirnya Komputer

Kiriman : IB Gede Wahyu Antara Dalem ( Staff UPT. TIK ISI Denpasar )

Abstrak

Teknologi komputer ini berkembang dari keinginan manusia menciptakan alat untuk menghitung, sejak zaman purba sampai perdaban modern. Bangsa Mesopotamia telah memiliki teknik menghitung dengan cara menempatkan biji-bijian atau kerikil. Bangsa China purba juga telah mengenal alat hitung suan-pan, yang lebih dikenal sebutan simpoa dan bangsa Eropa meyebutnya abacus. Alat hitung tradisional tersebut kemudian berkembang menjadi alat hitung mekanik pada abad ke-17, seperti kalkulator mekanik, mesin hitung mekanik, dan mesin analitik mekanik. Pada awal abad ke-20 teknologi untuk menghitung ini kemudian berkembang menjadi alat hitung elektro mekanik. Teknologi untuk menghitung ini kemudian makin berkembang setelah ditemukan teknologi elektronika pada 1940-an. Saat itu teknologi untuk menghitung ii disebut komputer. Istilah komputer dalam bahasa Inggris computer berarti menghitung. Kata computer itu  berasal dari bahasa Latin, computare. Kata com berarti menggabungkan dalam pikiran atau secara mental dan kata putare berarti memikirkan perhitungan atau penggabungan. Degan demikian computare berarti memperhitungkan atau menggabungkan bersama-sama. Selanjutnya, perkembangan komputer sejak 1950 dibedakan dengan batas generasi dan semakin mutakhir. Teknologi komputer desain (CAD) mulai dikenal pada akhir 1982, hingga berkembang teknologi computer desain 3D dengan realitas virtual pada 1990. Revolusi teknologi komputer pada akhir abad ke-20 telah memberikan kemudahan bagi berbagai pekerjaan manusia, seperti dalam pekerjaan desain dan perhitungan biaya.

Kata Kunci: Menghitung, Simpoa, Mekanik, Computare, CAD.

Selengkapnya dapat unduh disini

Taksu Seni Budaya Mewujudkan Ajeg Bali

Kiriman : Dr. Kadek Suartaya, S.S.Kar., M.Si (Dosen Fakultas Seni Pertunjukan )

Abstrak

Berkesenian adalah keseharian masyarakat Bali.  Menabuh gamelan, menari, melukis, menembang adalah rutinitas yang mengasyikkan dan dilakoni dengan suka  cita oleh orang Bali. Di pulau ini kesenian adalah persembahan, ibadah  dan sekaligus ekspresi estetik. Taksu seni budaya Bali memiliki kontribusi penting pada ajeg lestarinya peradaban Bali.

Kata kunci: Seni, Budaya, Ajeg Bali

Selengkapnya dapat unduh disini

Taksu Seni Budaya Mewujudkan Ajeg Bali

Kiriman : Dr. Kadek Suartaya, S.S.Kar., M.Si ( Dosen Seni Pertunjukan ISI Denpasar )

Abstrak

Berkesenian adalah keseharian masyarakat Bali.  Menabuh gamelan, menari, melukis, menembang adalah rutinitas yang mengasyikkan dan dilakoni dengan suka  cita oleh orang Bali. Di pulau ini kesenian adalah persembahan, ibadah  dan sekaligus ekspresi estetik. Taksu seni budaya Bali memiliki kontribusi penting pada ajeg lestarinya peradaban Bali.

Kata kunci: Seni, Budaya, Ajeg Bali

Selengkapnya dapat unduh disini

Loading...