Workshop Tarian Bali di Negeri Thailand Program AMDC 2020

Kiriman : I Wayan Budiarsa (Jurusan/ Prodi Tari FSP ISI Denpasar)

AbstrakAsean Music and Dance Connectivity (AMDC) merupakan program yang diselenggarakan setiap tahun yang diikuti oleh negara-negara Asia seperti Indonesia, Thailand, Kambodja, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Laos, Myanmar, Vietnam, dan Filipina. Tahun 2020 kegiatan AMDC dilaksanakan di Thailand, mulai dari 18-26 Januari 2020 terpusat di Rajabhat University dan di Suphan Buri College of Fine Arts, organizes ASEAN traditional music, dance. Materi workshop yang dibawakan oleh para instruktur diikuti oleh para siswa dan mahasiswa, dan adapun dari Indonesia (Bali) materinya adalah tari Baris Gede, tari Rejang Dewa, dan tari Cak.
Kata kunci: workshop, AMDC 2020 Thailand, Indonesia, Bali.

Selengkapnya dapat unduh disini

Pelatihan Gending Sekatian Numpuk Pada Sekehe Gong Anak-Anak Cakra Swara Di Banjar Penestanan Kelod

Kiriman : I Wayan Diana Putra (Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan FSP ISI Denpasar)

Abstrak
Pelatihan Gending Sekatian Numpuk adalah sebuah aktualisasi edukasi mengenai gending-gending klasik kepada masyarakat. Gending Sekatian Numpuk diberikan pada sekehe gong anak-anak Cakra Swara di Banjar Penestanan Kelod. Selain untuk mengenalkan gending-gending klasik, pelatihan ini juga bertujuan untuk menggairahkan kembali pelatihan gamelan di masa pandemi Covid-19. Penyajian Gending Sekatian tidak memerlukan jumlah penabuh yang banyak (20 orang), sehingga sesuai dengan protokol kesehatan pada masa pandemi Covid 19. Pelatihan Gending Sekatian Numpuk menggunakan tahapan Panca Sthiti Ngawi Sani dari I Wayan Dibia yaitu: ngawi rasa, ngawecak, ngarencana, ngewangun dan ngebah. Gending Sekatian Numpuk ini dilatih untuk memberikan perbendaharaan gending klasik untuk sekehe gong anak-anak Cakra Swara di Banjar Penestanan Kelod dan dapat dipergunakan pada saat acara piodalan di pura-pura lingkungan setempat.

Kata Kunci: Sekatian, Gending Numpuk, Penestanan Kelod

Selengkapnya dapat unduh disini

MATERIAL INTERIOR PADA MASA PANDEMI COVID-19

Kiriman : Ni Luh Kadek Resi Kerdiati (Program Studi Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar) 

ABSTRAK

Kebijakan new normal memberikan ruang yang lebih leluasa bagi masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah. Seiring dengan hal tersebut, berbagai solusi kreatif mulai digagas untuk menciptakan sebuah desain interior yang aman dan nyaman di masa pandemi. Mengubah lay out ruang untuk mengatur jarak aman, menyediakan fasilitas cuci tangan dan pengecekan suhu tubuh, serta menambahkan penyekat ruang transparan merupakan beberapa upaya sederhana yang bisa dilakukan untuk penerapan protokol kesehatan dengan interior yang sudah ada saat ini. Namun selain hal-hal tersebut, yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah memilih material interior yang tepat. Melalui studi literatur, isu ini dibahas dan dirangkum menjadi satu penjelasan yang utuh. Perkembangan penggunaan material dalam desain interior berjalan seiring dengan taraf kemajuan pikiran manusia, dalam masa pandemi seperti saat ini material yang memiliki kandungan zat antibakteri, serta material yang mudah dibersihkan dapat menjadi sebuah pilihan. Penggunaan material yang tepat akan sangat berperan dalam menghambat atau bahkan mencegah penyebaran virus di dalam ruangan.

Kata Kunci : material, desain interior, Covid-19

Selengkapnya dapat unduh disini

ASPEK ESTETIKA PADA KAIN BATIK TRUNTUM

Kiriman : Ni Kadek Yuni Diantari (Program Studi Desain Mode Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Denpasar)

Abstrak
Kesenian merupakan sebuah keindahan yang dapat ditelaah dengan ilmu estetika. Salah satu kesenian tersebut berupa kain tradisional yakni kain batik. Kain batik merupakan warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia dan ditetapkan sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi. Kain batik memiliki beraneka ragam pola dan motif yang salah satunya dapat ditemui pada motif batik truntum yang berasal dari Solo. Pada kain batik truntum terkandung nilai estetis yang dapat dibedah melalui aspek estetis menurut Djelantik. Tiga aspek dasar estetika tersebut meliputi wujud atau rupa (appearance), bobot atau isi (content, subtance), dan penampilan atau penyajian (presentation). Pada aspek wujud atau rupa terdiri dari bentuk, ritme, keseimbangan dan keselarasan/harmoni. Pada aspek bobot atau isi terdiri dari suasana, gagasan, dan pesan. Sedangkan pada aspek penampilan menunjukkan penyajian suatu karya seni kepada pengamat atau khalayak ramai. Batik truntum sebagai wujud fisik kebudayaan (artefak) merupakan hasil dari aktivitas dan kreativitas dari Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III) dalam merepresentasikan cinta Sunan Paku Buwana III yang tumbuh kembali kepada Ratu. Batik truntum memiliki ketiga aspek estetika tersebut. Sehingga dalam perkembangannya batik truntum tidak hanya digunakan sebagai sarung dalam acara pernikahan tetapi kini telah digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Tidak jarang pula ditemukan batik truntum yang telah dimodifikasi dengan kain modern dan dipadu-padankan dengan busana kasual untuk menghasilkan tampilan yang lebih kekinian, tetapi tetap terkesan etnik tanpa mengurangi aspek estetis dan nilai dari batik truntum tersebut. Dengan luwesnya pemakaian batik truntum ini merupakan apresiasi masyarakat terhadap keindahan batik truntum sekaligus sebagai upaya masyarakat dalam melestarikan warisan budaya batik truntum.

Kata Kunci : batik truntum, estetika, warisan budaya

Selengkapnya dapat unduh disini

Contemporary Issues in Architecture and Design

Kiriman : Nyoman Dewi Pebryani (Dosen FSRD ISI Denpasar)

Introduction

Architecture develops an extensive history from the establishment of civilization. In the beginning, humans need shelter as protection from sun, rain, animals and nature; shelter was the simplest temporary construction at that time. Since humans started inserting permanent settlements, development of architecture has been started. A slow and gradual process required deep understanding of thought in knowledge and practice of architectural field. Accordingly, these theories and practices enhance architecture to be learned into academic curriculum. In this paper, the author will deliberate the overview of architecture disciplines.

Selengkapnya dapat unduh disini

Critique of Multicultural Perspectives

Kiriman : Nyoman Dewi Pebryani (Dosen FSRD ISI Denpasar)

Introduction

Bryan Fay published a book titled “Contemporary Philosophy of Social Science: A Multicultural Approach,” in 1996. His mainly argue, “a dualistic ways of thinking [which] predominates […] the philosophy of social science.” (Pg. 223). Fay developed a new way to approach the philosophy of social science called multiculturalism. There is a growing development of social science in a multicultural approach, and Fay’s premises contributed to the Multicultural Philosophy of Social Science. This essay will elaborate Fay’s dialectical view and how multicultural approach should find a synergy and understanding, moreover, it also explains the incomplete statement of Fay by describing example and the writer own experience.

Selengkapnya dapat unduh disini

Loading...