BatuArt Festival #3 Perlombaan Tari Topeng Berpasangan “Penangkilan” Se-Bali 2021

Kiriman : I Wayan Budiarsa (Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan, FSP ISI Denpasar)

Abstrak

Pada tahun 2021 Batu Art Festival telah memasuki pelaksanaannya yang ke-3, dengan materi perlombaan topeng berpasangan “panangkilan”, lomba melukis gaya Batuan, pameran seni rupa, kerajinan, workshop lukisan gaya Batuan, workshop topeng gaya Batuan, dan pemeran tanaman bonsai. Di pengujung tahun 2021, walau dalam suasana pandemi Covid-19, dan wacana teror virus varian baru omicron tidak menyurutkan semangat Sekaa Truna Desa Adat Batuan Gianyar untuk melaksanakan perlombaan, yang sekaligus persiapan menuju Sahasra Warsa Baturan di tahun 2022 yang akan datang. Kegiatan tersebut didukung penuh oleh Desa Adat, dan beberapa sponsor, serta diikuti oleh 18 pasang peserta dari seluruh Bali dengan mengusung lakon-cerita Maha Sirikan, serta mengangkat tema “Angemit Taksuning Baturan Nuju Sahasra Warsa Baturan 2022”.

Kata kunci: BatuArt#3, lomba topeng, berpasangan, pameran, workshop, Sahasra.

Abstract

In 2021 the BatuArt Festival has entered its 3rd implementation, with material for a paired “panangkilan” mask competition, a Batuan-style painting competition, an exhibition of fine arts, crafts, a Batuan-style painting workshop, a Batuan-style mask workshop, and a bonsai plant actor. At the end of 2021, even in the atmosphere of the COVID-19 pandemic, and the discourse of the new variant of Omicron virus terror did not dampen the enthusiasm of Sekaa Truna in the Batuan Gianyar Traditional Village to carry out the competition, which is also preparation for the upcoming Sahasra Warsa Baturan in 2022. The activity was fully supported by the Traditional Village, and several sponsors, and was attended by 18 pairs of participants from all over Bali by bring the Maha Sirikan story play, and with the theme “Angemit Taksuning Baturan Nuju Sahasra Warsa Baturan 2022″.Keywords: BatuArt#3, mask competition, pairs, exhibition, workshop, Sahasra.

Selengkapnya dapat unduh disini

Pintu Masuk : Kesan Pertama dari Sebuah Bangunan

Kiriman : Ari Darmastuti (Dosen Desain Interior, Institut Seni Indonesia Denpasar)

 

Berbicara tentang pandangan pertama sering kali menjadi momentum yang paling melekat di pikiran seseorang ketika melihat sebuah objek. Sama halnya seperti bangunan, pintu masuk yang berada pada area muka selalu menjadi hal pertama yang diingat atau menjadi sebuah penanda. Tampak muka bangunan tidak hanya sebuah hasil karya desain dari arsitek atau desainer melainkan sebuah penggambaran dari karakter tempat ataupun desain ruang dalam sebuah bangunan.

Pentingnya sebuah pintu masuk pada bangunan sangat berdampak khususnya pada bangunan komersial. Bangunan komersial yang pada masa ini sangat pesat berkembang di Bali dengan menawarkan berbagai macam pengalaman dan karakter.  Terdapat beberapa jenis bangunan komersial baik hunian, retail, bar dan restaurant. Fasad pada bangunan komersial berperan sebagai sebuah penanda atau ikon dari tempat tersebut. Selain itu fasad juga berfungsi sebagai representasi kecil dari konsep desain yang menunjukan karakteristik sebuah tempat yang pertama kali akan dilihat oleh pengunjung.

Rangkaian pintu masuk pada fasad bangunan menjadi elemen penting dari lingkungan binaan desainer dari semua bentuk arsitektur (Moore, 1974).Desainer percaya bahwa rangkaian pintu masuk yang berkarakter kuat dapat memberikan pengguna sebuah bangunan sebuah kesempatan untuk merayakan kedatangannya di sebuah bangunan atau tempat. Desainer dapat membangun suasana hati yang diinginkan pada pengguna melalui pengalaman pengguna ketika memasuki bangunan. Eugene Raskin mengilustrasikan keyakinan bahwa dampak psikologis dari suatu pintu masuk dapat menjadi signifikan dengan bertanya “Berapa arsitek yang gagal menyadari penyertaan psikologis yang luar biasa dari transisi ruang luar ke ruang dalam (Raskin, 1954).

Selengkapnya dapat unduh disini

BENTUK DAN MAKNA SEGITIGA PADA RELIEF NARATIF DI DESA SEMBIRAN-SINGARAJA

Kiriman : Made Tiartini Mudarahayu (Dosen Program Studi Desain Mode FSRD Institut Seni Indonesia Denpasar)

Pendahuluan

Desa Sembiran terletak di Kecamatan Tejakula, 27-30 km dari timur Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng Provinsi Bali (Murtana, dkk, 2013:27). Dikenal sebagai salah satu desa tua di Bali, Sembiran terbukti telah dihuni manusia sejak ribuan tahun lalu, melalui bukti arkeologis berupa artefak kapak batu penetak, pahat genggam, serut puncak dan alat batu lainnya (Ardika, dkk, 2015:14).

Selain berbagai artefak tersebut, beberapa tempat pemujaan dengan ciri megalitik pun ditemukan di Desa Sembiran, di antaranya kini dikenal sebagai Pura Dulu, Pura Kahyengan Kangin, Pura Empu, Pura Cungkub dan Pura Jugan (Murtana, dkk, 2013:43). Ciri khas dari peninggalan zaman megalitikum ini adalah berbahan batu besar, tunggal, vertikal atau horizontal.

Meskipun memiliki banyak pura dengan ciri megalitik, namun hampir seluruhnya telah mengalami pemugaran, menurut keterangan I Nyoman Sutarmi selaku Pemangku Adat, Pura Jugan dan Pura Cungkub merupakan pura yang dipugar pada periode awal sebelum tahun 1974, atau jauh sebelum pura lain di Desa Sembiran mengalami pemugaran.

Pernyataan I Nyoman Sutarmi tersebut didukung dengan kondisi fisik Pura Jugan dan Pura Cungkub yang cukup tua, dengan beberapa bagian arsitektur telah mengalami pelapukan. Selain itu, pada kedua pura ini terdapat relief yang melengkapi beberapa bagian pura khususnya pada area bale piasan, namun tidak ditemukan pada pura lain di Desa Sembiran. Pada dasarnya relief merupakan karya dua dimensi, namun pada kasus tertentu juga bagian dari seni patung. Teknik pembuatan relief dapat berupa teknik pahat, maupun teknik kolase (Susanto, 2011:330).

Selengkapnya dapat unduh disini

MAKNA KONOTASI ILUSTRASI CINTA KARYA NURIARTA

Kiriman : Ida Ayu Dwita Krisna Ari (Dosen Jurusan Desain Komunikasi Visual FSRD ISI Denpasar)

Abstrak 

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna konotasi ilustrasi cinta karya Nuriarta. Gambar ilustrasi adalah sebuah gambar yang mampu menerangkan sesuatu kepada pembacanya. Dalam konsepnya sebagai gambar yang menerangkan sebuah narasi atau cerita, maka berbagai persoalan atau cerita mampu dihadirkan dengan gambar ilustrasi. Ilustrasi Cinta karya Nuriarta yang dipublikasikan di media sosial mendapatkan respons yang beragam. Ada yang membacanya sebagai sebuah ke-galau- an, ada yang membaca sebagai sebuah ekspresi pribadi, dan bahkan lebih jauh dipandang sebagai sebuah kerinduan dan kemampuan desainer Nuriarta dalam mengolah berbagai kata. Karya ilustrasi cinta yang dibagikan pada 20 Juni 2021 dengan ukuran karya A4 memiliki teka-teki password yang jika dipecahkan akan bertuliskan 1L0V3 U yang dibaca I Love U (I Love You) atau aku cinta kamu. Makna konotasi dari ilustrasi cinta ini adalah adanya keterhubungan teka teki untuk menyampaikan pesan cinta seorang laki-laki kepada perempuan. Ilustrasi ini ada keterhubungan dengan adanya teka-teki pesan yang disampaikan koruptor dalam melakukan aksi korupsi. Makna konotasi ilustrasi cinta gambar yang lainnya dapat dimaknai dengan melihat hal-hal di luar gambar yang memiliki keterhubungan pesan. Dengan ilustrasi cinta, Nuriarta tidak saja sedang meghadirkan senyum, tawa atau pesan perasaan secara pribadi kepada pembaca, namun karyanya memiliki pesan yang lebih luas berkaitan dengan persoalan virus korona yang melanda dunia. Ketakutannya tidak hanya pada persoalan jatuh cinta dalam konteks laki-laki dan perempuan sahaja. Kecintaannya adalah pada kecintaan terhadap semua hal. Konteks cinta dalam ilusrasi cinta karya Nuriarta tidak saja berbicara cinta secara an sich hubungan laki-laki dan perempuan, namun juga dalam konteks pada cinta banyk hal. Cinta pada uang, cinta pada Negara dan cinta pada berbagai hal. Konsep cinta menjadi makna yang sangat universal dalam pembongkaran makna karya-karyanya.

Kata Kunci: ilustrasi, makna konotasi, desain komunikasi visual, intertekstualitas

Selengkapnya dapat unduh disini

ESTETIKA FOTOGRAFI

(Pengkayaan Nilai dan Kosa Estetis Seni Rupa)

Kiriman : I Komang Arba Wirawan (Dosen Produksi Film dan Televisi ISI Denpasar)

Pemahaman kita secara umum tentang nilai estetis seni rupa adalah setiap pancaran nilai-nilai keindahan yang tercermin dari kehadiran sosok karya seni rupa yang secara menyeluruh memberikan kualitas dan karakter tertentu pada impresi bentuk kehadirannya. Fenomena ini dapat membangkitkan sesuatu keadaan/peristiwa yang indah dan meyenangkan (aesthetic momentes) bagi para penikmat dan permerhatian karya seninnya sebagai suatu konstruksi elemen estestis yang terbanggun secara krektif menjadi sosok-rupa yang terukurdalam pradikma yang menggikuti kaidah, kriterial, dan estetikanya. Terutama dalam konteks persepsi pandang estestis (aesthetic visual perception) yang diyakini memiliki nuansa dan wacananya sendiri dalam lingkup budaya visual.

Selengkapnya dapat unduh disini

Loading...