Penerapan Warna Dalam Desain User Interface (Ui) Aplikasi Seluler Bukaloka

Kiriman : Made Gana Hartadi (Mahasiwa Program Studi Seni Program Magister Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Denpasar)

Abstrak

Warna merupakan unsur yang sangat penting karena berperan sebagai penentu keberhasilan desain UI aplikasi seluler Bukaloka dalam berinteraksi dengan penggunanya. Warna harus diterapkan sesuai porsinya masing-masing berdasarkan teori warna desain UI agar berfungsi secara optimal. Tujuan penelitian adalah untuk menggambarkan dan menganalisis penerapan warna, serta memberikan saran untuk pembenahan desain UI. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa desain UI terdiri dari 11 jenis warna yang dikelompokkan ke dalam warna dominan, sub-ordinat, dan aksen. Warna-warna tersebut memiliki kelemahan dan ancaman yang lebih besar daripada kekuatan dan peluang. Kelemahan dan ancaman dapat diantisipasi melalui strategi WT (weakness and threat) yang berpedoman pada skema lingkaran warna.

Kata kunci: warna, desain UI, aplikasi seluler, Bukaloka

Selengkapnya dapat unduh disini

Desain Parametrik Pada Arsitektur Dan Interior Dalam Revolusi Industri 4.0

Kiriman : I Putu Udiyana Wasista (Ps. Desain Interior
Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar)
Abstrak

Revolusi industri membawa perubahan pada teknologi desain dalam dunia arsitektur dan desain interior. Perkembangan cyber physical system sebagai salah satu poin dalam revolusi industri 4.0, membentuk sebuah sistem generatif dalam program komputer berbasis algoritma dalam mempermudah proses sintesa desain. Proses ini disebut dengan sistem parametrik. Sistem ini mensinergikan antara logika dan teknologi komputer dalam membentuk model desain. Sistem parametrik memberikan ruang dalam mengeksplorasi ide dalam proses desain, lengkap dengan kemampuan memperkirakan logika konstruktifnya. Hasilnya desainer mampu membuat bentuk plastis dan unik, serta lengkap dengan struktur yang memungkinkan dan logis.

Kata kunci : desain parametrik, revolusi industri 4.0, arsitektur, desain interior.

Selengkapnya dapat unduh disini

Kartun Palemahan

Kiriman : I Wayan Nuriarta (Jurusan Desain Komunikasi Visual FSRD ISI Denpasar)
Abstrak

Kartun merupakan karya visual yang representatif atau simbolik, dan Palemahan adalah konsep hubungan antara manusia dengan lingkungan (Tri Hita Karana). Kartun Palemahan pada pembahasan ini dimakudkan pada karya kartun yang menunjukan gambaran hubungan manusia dengan lingkungannya, hubungan manusia dengan alamnya. Konpopilan sebagai sebuah kartun yang hadir pada Koran Komapas Minggu 5 Mei 2019 menunjukan bahwa kartun ini menggambarkan tokoh manusia bercaping yang membuang sampah sembarangan di laut. Dengan memanfaatkan tiga panel, kartun ini memberikan gambaran bahwa sampah plastik menjadi ancaman bersama dalam kehidupan. Ancaman tersebut dimulai dari banyaknya satwa yang mati karena telah memakan sampah plastik yang sudah membanjiri lautan. Kematian ikan paus, kura-kura hinga burung-burung telah lama kita dengar dan baca pada media massa. Penyebab kematiannya adalah sampah plastik. Kartun konpopilan ini memberikan kritik terhadap manusia yang sering membuang sampah sembarangan. Kritik tersebut juga menunjukan bahwa siapapun yang dengan sembarangan merusak lingkungan, maka lingkungan akan membalasnya dengan cara serupa. Manusia yang ‘menyakiti’ lingkungan akan berdampak pada hal sebaliknya yaitu alam tidak akan memberikan kebahagian, namun justru alam akan menghadirkan bencana.

Kata Kunci: Kartun, Tri Hita Karana, Sampah Plastik, Lingkungan

Selengkapnya dapat unduh disini

Interior Lobi Rumah Sakit yang Didesain Berdasarkan Kebijakan Sistem Pelayanan

Kiriman : I Gusti Ngurah Ardana dan A.A. Gede Ardana (Dosen PS. Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar)
Abstrak

Pada paper ini dibahas tentang hasil penelitian yang menggambarkan model interior lobi rumah sakit, yang didesain berdasarkan kebijakan sistem pelayanan sehingga memengaruhi interaksi antara karyawan dengan pengunjungnya. Pada dasarnya, pengunjung dan karyawan rumah sakit sama-sama ingin dapat berinteraksi secara terbuka. Pengunjung berharap dapat bertatap muka secara langsung, begitu juga dengan karyawan ingin merefleksikan sikap empati. Hanya saja, tidak semuanya dapat dipenuhi karena masih ada bagian yang harus dibatasi tetapi masih tetap mampu mengesankan sifat keterbukaan. Refleksi sikap empati merupakan bentuk pelayanan yang mencerminkan suasana hati yang sama, sehingga tumbuh sikap percaya pengunjung kepada rumah sakit untuk mengelola kesehatannya karena merasa diterima sebagai keluarga. Oleh karena itu, model desain interior yang dikembangkan pada lobi rumah sakit harusnya berpedoman pada sifat interaksi antara karyawan dan pengunjung yang membutuhkan suasana familiar bahkan sikap empati. Agar gambaran desain interior tersebut menjadi lebih faktual, maka disajikan salah satu model desain interior lobi rumah sakit swasta di Kota Denpasar yang memang sudah dikembangkan berdasarkan harapan pengunjung serta keinginan karyawan dan kebijakan manajemen rumah sakit. Berdasarkan fakta visual yang sudah diperoleh di lokasi penelitian, dapat disimpulkan bahwa zona aktivitas pada lobi rumah sakit ini dibagi menjadi dua bagian utama yaitu: (1) zona pelayanan untuk mengesankan sikap empati, didesain terbuka serta hanya dibatasi oleh meja kerja berukuran tinggi 70 Cm; dan (2) zona pelayanan untuk mencerminkan sifat familiar yang dipisahkan oleh kaca transparan serta meja berukuran tinggi 110 Cm karena ada transaski keuangan dan pengelolaan obat-obatan.

Kata kunci: karyawan, pengunjung, interaksi terbuka dan empati.

Selengkapnya dapat unduh disini

Candi Borobudur, Perpaduan Filosofi Buddha dengan Budaya Nusantara

Kiriman : I Gede Mugi Raharja Dosen Prodi Desain Interior FSRD ISI Denpasar

Abstrak

Candi Borobudur adalah peninggalan Agama Buddha yang terbesar di Indonesia. Dibangun pada akhir abad ke-8 oleh keluarga Raja Syailendra. Sejak tahun 800 sampai 1700, Borobudur diselimuti kegelapan. Pada masa kolonial Inggris, Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles memerintahkan Cornelius untuk menyelidiki sebuah candi yang belum di kenal di dekat Magelang pada 1814. Bangunan Candi Borobudur baru bisa terlihat setelah Hartman, Residen Kedu pada 1834 melakukan pembersihan secara menyeluruh. Pada masa kolonial Belanda, di atas puncak stupa Borobudur yang saat itu belum utuh, sempat didirikan bangunan bambu sebagai tempat minum teh. Struktur bangunan Borobudur menggunakan konsep kosmologi Buddha dan konsep punden berundak dalam tradisi budaya Nusantara. Struktur denah Borobudur merupakan perpaduan bentuk bujur sangkar dan lingkaran. Kombinasi bentuk lingkaran dan bujur sangkar merupakan ungkapan pergulatan pergulatan hidup manusia dan semesta yang serba maya dan harus membebaskan diri kepada yang sejati. Stupa puncak Borobudur merupakan poros dari perputaran dunia, perputaran kehidupan (samsara) yang terbelenggu oleh keinginan dan bersifat semu. Untuk menghindari perputaran hidup, manusia harus mencapai kehidupan yang kekal, dalam ajaran Buddha disebut pembebasan diri dari reinkarnasi. Dalam implementasinya di Borobudur, dapat dilakukan dengan melakukan pradaksina. Pradaksina adalah berjalan mengelilingi Borobudur sambil merenungkan perjalanan hidup Sidartha Gautama Buddha, dari tahap Kamadatu sampai Arupadatu, menuju kepada kesempurnaan. Berdasarkan keyakinan, pada pelataran Arupadatu di bawah stupa puncak, pradaksina dapat dilakukan dari arah timur berputar ke selatan, barat, utara dan kembali ke timur. Menurut keyakinan penduduk setempat, setelah melakukan pradaksina minimal tiga kali, konon segala doa akan terkabulkan.

Kata Kunci: Syailendra, Lingkaran-Bujursangkar, Samsara, Pradaksina, Kesempurnaan.

Selengkapnya dapat unduh disini

Desain Arsitektur Tradisional Bali Modern Pada Villa Tugu di Canggu Bali

Kiriman : Ni Putu Eka Yuniariantini (Mahasiswa Jurusan Desain Interior FSRD ISI Denpasar)
Abstrak

Arsitektur Bali tidak terlepas dari lontar asta kosala kosali yang memuat tentang aturan – aturan pembuatan rumah atau puri, tempat ibadah dll. Dalam asta kosala kosali disebutkan dalam pembuatan rumah harus mengikuti aturan – aturan anatomi tubuh pemilik rumah dengan dibantu sang undagi. Arsitektur bali sangat lekat dengan dengan unsur kebudayaan dan ajaran hindu. Filosofi yang terkandung dalam arsitektur bali diantaranya Tri Hita Karana, Tri Mandala, Sanga Mandala, Asta Kosala Kosali dan Arga Segara. Pada dasarnya semua konsep pada arsitektur tradisional bali mengacu pada kosmologi, alam, kebudayaan dan tentunya sisi ergonomis dari penghuninya. Fakta populernya arsitektur tradisional Bali tak lepas dari kekayaan filosofi dan unsur budaya yang melekat dan mengalami perkembangan menjadi Arsitektur Bali Modern, yang merupakan gabungan antara arsitektur Bali dengan penambahan unsur modern. Banyak rumah di Bali dan villa mewah menggunakan filosofi yang nyata dari arsitektur Bali.

Kata Kunci : Filosofi , Villa, arsitektur tradisional Bali dan modern

Selengkapnya dapat unduh disini

Loading...