KUASA SETYAWATI

Kiriman : I Wayan Nuriarta (Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain
Institut Seni Indonesia Denpasar)

Abstrak
Dalam masyarakat patriarki, hubungan antara laki-laki dan perempuan cendrung lebih memberikan tempat yang utama pada laki-laki, sehingga jika dicermati secara teliti maka dalam banyak bidang kehidupan menempatkan perempuan pada posisi subordinasi. Seorang perempuan tentu dipandang berada sebagai “makhluk kelas kedua” setelah lakilaki atau bisa disebutkan bahwa kekuasaan hanya milik laki-laki. Penelitian ini akan membahas kuasa Setyawati, tokoh perempuan dalam cerita Mahabharata yang membuat orang lain memenuhi apa yang ia katakan. Membaca kembali kuasa Setyawati dengan perspektif kekuasaan penting untuk dilakukan untuk melihat kuasa perempuan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dengan metode kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kuasa Setyawati pada komik Mahabharata dalam sub-cerita Sumpah Bhisma. Hasilnya adalah pertama, Setyawati mampu membuat Raja Sentanu memaksa Bhisma untuk tidak naik tahta di Astina meskipun sudah dinobatkan menjadi putra mahkota, kedua Setyawati telah mampu membuat Bhisma kehilangan tahta dan juga kehilangan kesempatan untuk menikah dan memiliki keturuan. Dua hal yang dilakukan oleh dua tokoh laki-laki hebat dalam cerita Mahabharata ini adalah sebuah pengorbanan untuk dapat memenuhi harapan Dewi Setyawati. Itulah
penegasan kuasa Dewi Setyawati dalam cerita komik Mahabharata karya Gun Gun.

Kata Kunci: Komik Mahabharata, Kekuasaan, Kajian Budaya, Ilustrasi

Selengkapnya dapat unduh disini

Evolusi Busana Saput Tari Topeng Bali

Kiriman : I Wayan Budiarsa (Program Pascasarjana Program Studi Seni Program Doktor ISI Denpasar)

Abstrak

Saput, sebagai busana pada tari topeng Bali mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyajian tari topeng. Ciri khas tari topeng Bali adalah dengan mengenakan jenis busana sesaputtan, serta dari busana ini memunculkan pembendaharaan ragam gerak tari seperti gerakan nabdab saput, nyambir, dan  ngelubit. Saput dikenakan secara melingkar diikat di dada penari, berbahan dari kain, serta di atas kain terdapat berbagai jenis ornamen pepatran yang dipulas dari prada. Kini, bahan saput dan bentuk pepatran mengalami perubahan sesuai dengan selera estetis penari (faktor internal), dan didukung pula daya kreativitas perajin busana untuk menemukan identitas dirinya (faktor eksternal).

Kata kunci: evolusi, saput, tari topeng, Bali.

Abstract

Saput, as a costume in Balinese mask dance, has a very important role in the presentation of the mask dance. The hallmark of the Balinese mask dance is to wear the sesaputtan type of clothing, and from this clothing raises a repertoire of dance movements such as the nabdab saput, nyambir, and ngelubit movements. The saput is worn in a circle tied around the dancer’s chest, made of cloth, and on the cloth there are various types of pepatran ornaments daubed from prada. Now, the fabric and form of the pepatran have changed according to the aesthetic tastes of the dancers (internal factors), and is also supported by the creativity of fashion craftsmen to find their own identity (external factors).

Key words: evolution, Saput, mask dance, Bali.

Selengkapnya dapat unduh disini

Virtual Meeting dalam Kondisi Pandemi Covid-19

Kiriman : Yulia Ardiani, Staf TIK ISI Denpasar

Abstrak

Pada era teknologi jaman sekarang banyak orang lebih mengenal gaya hidup yang praktis. begitu pula saat terjadi pandemi covid-19, orang lebih mengandalkan aplikasi dan teknologi untuk bertemu dan bertegur sapa baik itu dalam lingkungan luar rumah dan lingkungan kantor. Untuk lingkungan kantor teknologi sangat dimanfaatkan untuk keterbatasan pertemuan, rapat dan segala macam hal yang mengumpulkan banyak orang di satu tempat. untuk itu banyak perusahaan maupun perguruan tinggi menggunakan virtual meeting  untuk mengadakan pertemuan.

Mengenal Virtual Meeting yang semakin banyak digunakan di masa Pandemi COVID-19 membuat orang – orang memiliki gaya hidup yang sedikit berubah. Lebih sering menghabiskan waktu di rumah hingga menyelesaikan pekerjaan (work from home) menjadi hal yang biasa dilakukan. Begitu juga semakin seringnya melakukan virtual meeting.

Virtual meeting adalah sebuah konsep pertemuan atau rapat yang dilakukan secara virtual, yang membutuhkan alat teknologi dan aplikasi virtual meeting.

Kata Kunci : Virtual Meeting, Pandemi Covid-19

Selengkapnya dapat unduh disini

Tinjauan tentang Tingkatan dalam Industri Fashion

Kiriman  : Dewa Ayu Putu Leliana Sari, Desain Mode ISI Denpasar,

Abstrak

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui macam-macam tingkatan dalam industri fashion, perbedaan tingkatan serta seperti apa contoh dari tingkatan dalam industry fashion. Pengetahuan tentang tingkatan dalam industry fashion sangatlah penting dipelajari dalam setiap pelaku fashion, baik praktisi maupun akademisi. Hal tersebut dikarenakan sebelum membuat suatu desain busana kita harus mengetahui design brief atau tujuan kita dalam membuat suatu desain. Jenis-jenis tingkatan dalam industry fashion secara umum dari yang terendah sampai yang tertinggi yaitu mass product, ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture. Tingkatan fashion terendah mass product yaitu pakaian yang diproduksi dalam jumlah massal oleh konveksi maupun garmen dengan jumlah 1 desain busana bisa mencapai lebih dari 1000 buah. Sedangkan tingkatan fashion tertinggi haute couture, yaitu pakaian yang diproduksi dan material bahan yang eksklusive, 1 (satu) desain hanya untuk 1 (satu) orang saja, serta pengerjaan yang rumit, memerlukan ketelitian dan keterampilan yang sangat tinggi.

Kata kunci: Tinjauan, tingkatan, industry fashion

Seelengkapnya dapat unduh disini

KONSEP SENI RUPA KOLEKTIF DALAM SENI LUKIS MINI KELIKI

Kiriman : Made Tiartini Mudarahayu (Program Studi Desain Mode Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Denpasar)

 

ABSTRAK

Salah satu mazhab seni lukis tradisional Bali yang muncul hampir bersamaan dengan puncak kejayaan seni lukis modern yang mengedepankan indvidualisme adalah mazhab seni lukis mini Keliki. Menariknya bahwa meskipun lahir pada masa kejayaan seni lukis modern, seni lukis mini Keliki dapat tetap berkembang dengan akar konsep berkesenian di Bali, yaitu menjunjung konsep kolektifitas Ditinjau dari sejarah terciptanya mazhab seni lukis mini Keliki Kawan oleh I Ketut Sana, maka dapat dilihat konsep seni rupa kolektif yang tersirat di dalamnya. Konsep seni rupa kolektif tercermin sangat jelas melalui aspek kekaryaan oleh I Ketut Sana sebagai pelopor, maupun perkembangan seni lukis mini Keliki ini oleh generasi penerus melalui kelompok Werdhi Jana Kerthi Keliki. Metode yang digunakan untuk melakukan kajian adalah dengan metode kualitatif, yaitu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme. Konsep kolekyif melalui nilai seni lukis Ubud dapat terlihat melalui bentuk-bentuk plastis yang digunakan dan warna-warna lembut dan netral yang diterapkan dalam penciptaan karya, serta teknik penciptaan yang serupa melalui teknik sigarmangsi, ngontur dan nyelah. Sedangkan nilai-nilai seni lukis Batuan dan Young Artist dapat dilihat melalui penerapan struktur keseimbangan formal melalui penerapan unsur-unsur serupa pada setiap bagian sisi karya. Konsep seni rupa kolektif terlihat terefleksi dengan baik melalui elaborasi nilai-nilai dalam seni lukis mazhab Ubud, Batuan dan Young Artist ke dalam seni lukis mini Keliki. Selain itu, konsep seni rupa kolektif juga terlihat melalui proses penciptaan karya seni lukis mini Keliki.

Kata kunci: Konsep, Kolektif, Seni Lukis Mini Keliki

 Selengkapnya dapat unduh disini

PENERAPAN TEKNOLOGI CITRA SEBAGAI BENTUK SEMIOTIKA POST MODERN DALAM FILM “BANGKIT”

Kiriman : Ni Kadek Dwiyani, S.S., M.Hum (Jurusan Televisi dan Film, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar)

Abstrak

Kekuatan sebuah film saat ini, tidak hanya dititikberatkan pada jalan cerita atau pemeran pendukung yang ada dalam film tersebut, melainkan juga banyak dipengaruhi oleh keberanian tim produksi untuk menggunakan bantuan teknologi dalam menghasilkan visual yang memanjakan mata penonton. Kekuatan teknologi saat ini mampu menghasilkan pesan visual yang akan memberikan petunjuk realitas kepada penonton untuk lebih mudah memahami pesan yang ingin disampaikan dalam film.  Banyak hal yang tentunya secara kasat mata mampu terlihat nyata dalam layar film, padahal sesungguhnya hal tersebut merupakan kekuatan teknologi yang dalam hal ini kita sebut sebagai citra simulasi, yang tentunya hanya merupakan hasil teknologi yang dihasilkan untuk menghasilkan sesuai yang diharapkan memiliki kesamaan dengan hal nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pokok bahasan dalam tulisan ini adalah untuk melakukan identifikasi dan analisis makna pada bentuk-bentuk citra simulasi yang diterapkan dalam film “Bangkit”, dengan menggunakan teori tentang Citra Simulasi dalam ranah Semiotika yang dikemukakan oleh Jean Baudrillard dalam Bambang (2001).

Hasil penulisan ini menunjukan bahwa citra simulasi mampu memudahkan penonton untuk memahami alur konflik dan cerita dalam film “Bangkit” dengan mengiring imajinasi penonton dari hal yang imajinatif menjadi realitas.

Kata Kunci: Citra Simulasi, Semiotika Baudrillard, Realita, Film “Bangkit”

 

Selengkapnya dapat unduh disini

Loading...