Seni Pertunjukan Gambuh Kajian Makna Dan Nilai Budaya (3)

Kiriman : Wardizal, S.Sen., M.Si (Dosen Jurusan Karawitan FSP ISI Denpasar)

Abstrak

Gambuh, merupakan salah satu bentuk kesenian kasik, berunsurkan total teater dan dianggap sumber drama tari Bali. Kesenian gambuh telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sosio kulural masyarakat Bali dari dahulu sampau sekarang.  Catatan sejarah menunjukkan, seni pegambuhan telah ikut mewarnai perkembangan beberapa bentuk kesenian lain di Bali. Sebagai sebuah karya seni, gambuh selain dijadikan obyek penikmatan estetis dan ritual, juga telah banyak dijadikan obyek studi. Gambuh, merupakan “tambang emas” yang tiada habisnya untuk digali dan dikaji dalam berbagai persfektif. Tulisan ini mencoba untuk menelusuri dan mendalami tentang makna dan nilai budaya dalam seni pertunjukan gambuh. Teori makna yang dikemukakan Peter L. Breger dijadikan acuan untuk melihat makna gambuh dalam kehidupan sosio kultural Masyarakat. Menurut Breger, Manusia memberi makna kepada benda-benda, membubuhkan nilai pada benda-benda  itu, dan menciptakan tata susunan pengertian yang luas (bahasa, sistem lambang, lembaga) yang merupakan pedoman mutlak diperlukan dalam hidupnya. Breger membedakan makna ini atas dua kategori, yaitu makna dalam masyarakat tradisional (belum modern), dan makna dalam masyarakat modern. Dalam masyarakat yang belum modern, kebanyakan makna itu terberikan kepada manusia oleh tradisi, yang jarang atau tak pernah dipertanyakan. Dalam masyarakat modern, sebagian besar dari keseluruhan makna itu “dipilih” orang secara pribadi. Berkaiatan dengan persoalan makna tersebut, gambuh mempunyai beberapa makna dalam kehidupan sosio-kultural masyarakat. Makna tersebut diantaranya adalah (1) makna keseimbangan, (2) makna simbolik dan (3) makna prestise dan kebanggaan lokal. Pemaknaan terhadap suatu unsur kebudayaan, terkait erat dengan sisitem nilai budaya. Sistem nilai budaya pada hakekatnya terdiri dari konsep mengenai segala sesuatu yang dinilai beharga dan penting warga suatu masyarakat, sehingga dapat berfungsi sebagai pedoman orientasi pada kehidupan para warga masyarakat bersangkutan. Megacu kepada Konsep nilai budaya universal yang dikemukakan oleh Spranger, terdapat 6 (enam) nilai budaya universal yang terkandung dalam seni pertunjukan gambuh. Nilai-nilai budaya tersebut adalah (1) nilai religius, (2) nilai estetis, (3) nilai solidaritas, (4) nilai ilmu pengetahuan,  (5) nilai kekuasaan.

Kata Kunci: Seni Pertunjukan, Gambuh, Makna, Nilai Budaya

Selengkapnya dapat unduh disini

Pranaraga Sebuah Lakon Drama Tari Gambuh Generasi Muda Oleh Sanggar Seni Satriya Lelana Batuan Gianyar Di Ajang Pesta Kesenian Bali XXXIX 2017

Kiriman : I Wayan Budiarsa ( Jurusan Tari FSP ISI Denpasar )

Abstrak

Semarak Pesta Kesenian Bali XXXIX tahun 2017 telah  menciptakan suasana berbeda dari tahun-tahun terdahulu. Mengambil tema “Ulun Danu” yakni menjaga sumber air kehidupan mampu menarik pengunjung, baik wisatawan dosmetik maupun wisatawan luar negeri. Magnet PKB masih sangat kuat, sehingga penampilan para seniman-seniwati saat penyajiannya selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat luas. Dari perkembangan dari tahun ketahun menunjukan semakin semakin mampu menunjukan kuantitas dan kualitasnya. Pesta Kesenian bali tidak hanya dimiliki oleh masyarakat bali saja, namun telah menjadi bagian dari masyarakat dunia, pun demikian tidak hanya menampilkan hasil karya seni budaya bali saja, namun sajian dari luar negeri pun tak kalah menariknya untuk dapat disimak.

Penyajian gambuh generasi muda oleh Sanggar Seni Satriya Lelana Batuan dengan jumlah penari dan penabuh mencapai 50 orang lebih tersebut cukup membuat penonton tidak beranjak pergi dari tempat duduknya. Memadukan seniman-seniwati dari usia 9 tahun sampai usia 70 tahun membuat pementasan tersebut berbeda dengan penampilan gambuh lainnya. Gambuh yang dalam penyampaian lakonnya menggunakan bahasa kawi oleh tokoh utama, dan menggunakan bahasa bali oleh tokoh abdi/ punakawan adalah syarat utama bagi para penari agar mampu tampil dengan maksimal di atas panggung.

Kata kunci: Pranaraga, gambuh SL PKB 2017.    

Abstract

The lively Bali Arts Festival XXXIX 2017 has created a different atmosphere from previous years. Taking the theme of “Ulun Danu” is to keep the water source of life able to attract visitors, both tourists and tourists abroad dosmetik. Magnet PKB is still very strong, so the artist-artist performance when the presentation is always eagerly awaited by the audience, which is increasingly able to show the quantity and quality. Bali Art Festival is not only owned by the people of Bali, but has become part of the world community, and not only showcase the work of art and culture of Bali, but the dish from abroad was no less interesting to be listened to.
The presentation of  young regeneration gambuh by Satriya Lelana Batuan Art Studio with the number of dancers and drummers reaches 50 more people is enough to make the audience did not move away from his seat. Blending artists-artwati from the age of 9 years until the age of 70 years makes the performance different from other gambuh performances. Gambuh that in the delivery of the play using kawi language by the main character, and using the language of bali by the character of the servant.

Keywords: Pranaraga, gambuh SL PKB 2017.

Selengkapnya dapat unduh disini

Rancangan Dekorasi Siaran Televisi Sebuah Simulasi

Kiriman : I Gede Mugi Raharja (Dosen Ps. FSRD ISI Denpasar)

ABSTRAK

Lahirnya siaran televisi melalui proses yang cukup panjang, diawali oleh kesuksesan percobaan G. Marconi dan Alexander S. Popoff mengirim dan menerima gelombang radio pada 1895. Tabung televisi gambar berhasil dibuat oleh Vladimir K. Zworykin pada 1923, televisi elektronik dibuat pada 1927 dan siaran televisi sudah dilakukan di Inggris pada 1936. Kemudian, pada 1953 berhasil dilakukan  uji cova pesawat televisi berwarna oleh National Television System Committee (NTSC), disusul mulainya siaran televisi berwarna pada 1954. Pemerintah Indonesia baru berhasil membangun stasiun pemancar dan siaran televisi pada 1962. Kelahiran siaran televisi di Indonesia, dipicu oleh keinginan untuk menyiarkan kegiatan Asian Games IV 1962. Sehingga tanggal 24 Agustus 1962 ditetapkan sebagai Hari Lahir Televisi Republik Indonesia bertepatan dengan kegiatan Pembukaan Asian Games IV di Jakarta. Di Bali, Stasiun TVRI Denpasar berdiri dan diresmikan pada 16 Juli 1978. TVRI Denpasar sangat berperan dalam menyukseskan kegiatan Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak awal 1980-an. Kegiatan PKB yang senantiasa ditunggu-tunggu siarannya oleh pemirsa di Bali adalah siaran sendratari Mahabharata, drama gong dan drama klasik Teater Mini Badung. Khusus rancangan dekorasi televisi untuk produk hiburan, sebagian besar dibuat dalam bentuk simulasi, kamuflase, artifisial, seperti dengan teknik chromakey yang dikenal dengan istilah green screen atau blue screen. Akan tetapi, di layar televisi bisa tampak seperti nyata. Itulah teknik simulasi gambar yang bisa dibuat berkat kemajuan teknologi komputer grafis.

Kata Kunci: Marconi,  Zworykin, Siaran tv, Chromakey, Komputer grafis.

 Selengkapnya dapat unduh disini

 

 

Warna Poleng Busana Pemangku Pengluran Pada Upacara Pengerebongan Di Pura Agung Petilan, Kesiman

Kiriman : I Gusti Agung Malini (Mahasiswa S2 Institut Seni Indonesia Denpasar)

ABSTRAK

Selain ritual, menusukkan keris ke dada merupakan hal yang berbeda dan menjadi ciri khas dari upacara pengerebongan di Pura Agung Petilan Kesiman. dibandingkan dengan Pura lain yang ada di Bali. Busana (pengrangsuk) Pemangku yang dipakai pada saat upacara pengerebongan berbeda dari busana yang biasa digunakan oleh Pemangku di Pura lainnya di Bali. Salah satunya adalah busana pemangku pengluran yang didominasi oleh warna poleng. Warna poleng dari busana pemangku pengluran pada saat upacara pengrebongan di Pura Agung Petilan Kesiman, masuk ke dalam warna natural karena terdiri dari warna hitam dan putih. Makna warna poleng yang digunakan pemangku pengluran pada upacara pengerebongan, diambil dari kepercayaan Kesiman sebagai penganut Siwaisme yang menyembah matahari, disimbolkan dengan warna putih dan gunung yang disimbolkan dengan warna hitam

Kata Kunci : Poleng, Pemangku Pengluran, Pengerebongan.

Selengkapnya dapat unduh disini

Angklung Kebyar

Kiriman : I Wayan Muliyadi (Mahasiswa S2 Institut Seni Indonesia Denpasar)

ABSTRAK

Seni merupakan sebuah kreatifitas yang terus menerus mengalami perubahan oleh seniman sendiri, dengan terus menggali dan mencari kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi atau bisa dikembangkan dari sebuah media cipta menjadi sebuah karya seni baru. Seni karawitan merupakan salah satu dari bagian seni tradisional yang mengalami perkembangan begitu pesat dengan pengaruh-pengaruh unsur musik barat atau bisa dikatakan musik kekinian. Seorang pengerawit memainkan lagu dengan rasa indah itu sudah biasa dilakukan, kini pengerawit lebih mencari teknik dalam memainkan lagu, di mana teknik yang sulit menjadi tolak ukur keindahan dari sebuah karya seni karawitan, terlepas dari unsur-unsur tradisi yang selama ini membalut. Gambelan merupakan salah satu media bagi seniman dalam berkreatifitas. Di Bali pada khususnya terdapat beraneka jenis gambelan dengan karakteristik yang berbeda sesuai dengan daerah asal dari gamelan tersebut. Ada gamelan golongan tua, madyada golongan baru. Pada masyarakat Bali, gamelan sangat berperan penting dalam setiap kegiatan adat atau keagamaan, seperti Dewa Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya. Gamelan angklung merupakan salah satu jenis barungan gamelan Bali yang termasuk dalam golongan gamelan tua, menggunakan laras selendro, dibentuk oleh instrumen berbilah dan pencon dari bahan kerawang. Perkembangan angklung kebyar yang begitu pesat menyebabkan perubahan pandangan masyarakat terhadap eksistensi gamelan angklung. Apalagi generasi muda  semakin meninggalkan gending-gending klasik keklentangan. Menjadi sebuah tantangan bagi para seniman yang mencintai eksistensi gamelan angklung. Guna menjaga kelestarian barungan gamelan Bali dengan ciri khasnya masing-masing, tidak perlu menyeragamkan setiap barungan gamelan Bali menjadi kebyar, agar gamelan sebagai warisan leluhur dikembalikan pada fungsi dan karakteristik dari gamelan Bali.

Kata Kunci: Angklung, Keklentangan, Kebyar, Karakteristik, Kelestarian.

 

Selengkapnya dapat unduh disini

 

Seni Pertunjukan Gambuh Kajian Makna Dan Nilai Budaya 2

Kiriman : Wardizal (Dosen Karawitan ISI Denpasar)

Abstrak

Gambuh, merupakan salah satu bentuk kesenian kasik, berunsurkan total teater dan dianggap sumber drama tari Bali. Kesenian gambuh telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sosio kulural masyarakat Bali dari dahulu sampau sekarang.  Catatan sejarah menunjukkan, seni pegambuhan telah ikut mewarnai perkembangan beberapa bentuk kesenian lain di Bali. Sebagai sebuah karya seni, gambuh selain dijadikan obyek penikmatan estetis dan ritual, juga telah banyak dijadikan obyek studi. Gambuh, merupakan “tambang emas” yang tiada habisnya untuk digali dan dikaji dalam berbagai persfektif. Tulisan ini mencoba untuk menelusuri dan mendalami tentang makna dan nilai budaya dalam seni pertunjukan gambuh. Teori makna yang dikemukakan Peter L. Breger dijadikan acuan untuk melihat makna gambuh dalam kehidupan sosio kultural Masyarakat. Menurut Breger, Manusia memberi makna kepada benda-benda, membubuhkan nilai pada benda-benda  itu, dan menciptakan tata susunan pengertian yang luas (bahasa, sistem lambang, lembaga) yang merupakan pedoman mutlak diperlukan dalam hidupnya. Breger membedakan makna ini atas dua kategori, yaitu makna dalam masyarakat tradisional (belum modern), dan makna dalam masyarakat modern. Dalam masyarakat yang belum modern, kebanyakan makna itu terberikan kepada manusia oleh tradisi, yang jarang atau tak pernah dipertanyakan. Dalam masyarakat modern, sebagian besar dari keseluruhan makna itu “dipilih” orang secara pribadi. Berkaiatan dengan persoalan makna tersebut, gambuh mempunyai beberapa makna dalam kehidupan sosio-kultural masyarakat. Makna tersebut diantaranya adalah (1) makna keseimbangan, (2) makna simbolik dan (3) makna prestise dan kebanggaan lokal. Pemaknaan terhadap suatu unsur kebudayaan, terkait erat dengan sisitem nilai budaya. Sistem nilai budaya pada hakekatnya terdiri dari konsep mengenai segala sesuatu yang dinilai beharga dan penting warga suatu masyarakat, sehingga dapat berfungsi sebagai pedoman orientasi pada kehidupan para warga masyarakat bersangkutan. Megacu kepada Konsep nilai budaya universal yang dikemukakan oleh Spranger, terdapat 6 (enam) nilai budaya universal yang terkandung dalam seni pertunjukan gambuh. Nilai-nilai budaya tersebut adalah (1) nilai religius, (2) nilai estetis, (3) nilai solidaritas, (4) nilai ilmu pengetahuan,  (5) nilai kekuasaan.

Kata Kunci: Seni Pertunjukan, Gambuh, Makna, Nilai Budaya

Selengkapnya dapat unduh disini

Loading...