Peningkatan Nilai Karakter Religius di Masa Pandemi Covid-19

Kiriman : Dr. Ni Ketut Dewi Yulianti, S.S., M.Hum dan Drs. I Gusti Bagus Priatmaka, M.M ( Dosen Prodi Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar)

Abstrak

Tulisan ini mengulas tentang peningkatan nilai karakter religius di masa pandemi Covid-19. Pandemi ini sedang mewabah di hampir seluruh dunia dan telah menelan begitu banyak korban. Segala upaya dilakukan untuk terhindar dari paparan virus corona ini. Setelah melakukan berbagai upaya, sisanya adalah berserah pada Tuhan dan memohon perlindunganNya. 

Karakter riligius terkadang mengalami kemerosotan diakibatkan oleh derasnya kebutuhan material dalam hidup. Namun, dampak baik dari pandemi Covid-19 ini adalah semakin mendekatkan manusia pada Sang Pencipta, 

Ada dua hal pokok yang diulas dalam tulisan ini, yaitu (a). bagaimanakah ciri-ciri sikap seseorang yang memiliki karakter religius dan (b) bagaimanakah hubungan antara nilai karakter religious dan pandemi Covid-19. 

Hal ini sangat signifikan dan perlu untuk dikaji, mengingat saat ini banyak terjadi kemerosotan karakter anak bangsa dan juga permasalahan kebangsaan, seperti bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sekalipun telah ditetapkan bahwa pendidikan karakter adalah bagian utama dari pendidikan nasional.

Kata kunci: Nilai karakter religious, kebutuhan material, pandemic Covid-19

Selengkapnya dapat unduh disini

SENI MENATA AMARAH (ANGER) SEBAGAI BAGIAN DARI PENDIDIKAN KARAKTER

Kiriman : Dr. Ni Ketut Dewi Yulianti, S.S., M.Hum (Prodi Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar)

Abstrak

Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan karakter sudah mulai berkembang seirng dengan makin gencarnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengumandangkan tujuan keberhasilan pendidikan nasional yang tidak dapat dilepaskan dari pendidikan karakter atau akhlak peserta anak didik. Tulisan ini dimaksudkan untuk menguraikan salah satu keadaan dalam kehidupan manusia yang sering dialami oleh siapa saja, yaitu rasa marah dan hubungannya dengan pendidikan karakter.    Ada dua hal pokok yang dibahas dalam tulisan ini yaityu (1) faktor-faktor yang menyebabkan munculnya rasa marah  dan (2) mengendalikan rasa marah ke hal-hal yang positif dalam upaya menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Tulisan ini menjadi signifikan karena banyak masalah muncul di lingkungan tempat kerja dan juga terjadinya kegagalan dalam hidup karena kegagalan dalam mengendalikan amarah. Seseorang yang mampu mengendalikan amarahnya, memiliki nilai karakter cinta damai yang tinggi.

Selengkapnya dapat unduh disini

Gelar Gending (Ruang Penyajian Gagasan Tekstual Dalam Komposisi Gamelan)

Kiriman : I Wayan Diana Putra (Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan FSP, ISI Denpasar)

Abstrak

Gelar Gending adalah sebuah ruang pementasan karya komposisi gamelan beserta diskusi mengenai gagasan dan ide musikologi yang melatarbelakangi komposisi gamelan tersebut. Penyajian karya serta diskusi mengenai elemen-elemen musikologi yang membentuk komposisi gamelan merupakan inisiasi dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Seni Karawitan, Jurusan Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Gelar Gending diselenggarakan perdana pada hari Minggu tanggal 15 November tahun 2020. Tulisan ini mendeskripsikan mengenai gagasan dan pencapaian dari even Gelar Gending. Deskripsi dalam tulisan ini mencangkup mengenai kredo mencipta dan hasil karyanya terhadap gamelan. Kredo mencipta dan hasil karya yang dipresentasikan untuk mewujudkan munculnya konsep tekstual dalam komposisi Gamelan.

Kata Kunci: Gelar Gending, Komposisi Gamelan, Konsep Tekstual

Abstract

Gelar Gending are an creative space to perfom and share new compositons for gamelan within discusions and dialog about the musiclogys consept and ideas behind their gamelan compositions. The concert and discusions of the new gamelan compotions that’s was initiated by Karawitan Student Centers, Karawitan Departement, Faculty of Performing Arts, Institute of The Art of Denpasar (ISI Denpasar). The premeire event was held on November 15 2020. Contents on this article to explains about compositions contens by analitychal within audient perspectifs also collect data by composer ideas and arguments refer to their piece. The principils of creative ideas and tehcniq to composing gamelan piece as we call “tekstual conceps” will be a poin patron.

Key Note: Gelar Gending, Gamelan Compositons, Tekstual Conceps

Selengkapnya dapat unduh disini

BARONG KOMODIFIKASI

Kiriman : I Wayan Nuriarta (Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar)

ABSTRAK

Barong digunakan sebagai simbol keagamaan, di Bali erat kaitannya dengan kewisesan (kesaktian). Barong adalah manefestasi Tuhan yang paling dekat dengan umat. Barong sering dipakai sebagai pengusir roh jahat yang merugikan, karena masyarakat percaya bahwa Barong tersebut merupakan penjaga keseimbangan desa. Pada hari tertentu seperti hari Raya Kuningan yang jatuhnya tiap 6 bulan sekali, Barong biasanya diupacarai dengan berbagai banten dan persembahan-persembahan. Pesatnya perkembangan pariwisata memberikan dampak bagi para sangging pembuat Barong. Secara substitusi, kompleks unsurunsur kebudayaan (seperti Barong) yang ada sebelumnya mengalami perubahan fungsi. Para sangging telah banyak mengembangkan pekerjaannya. Dahulu mereka biasanya membuat Barong yang bersifat sakral, yang digunakan sebagai persembahan untuk upacara keagamaan. Sekarang banyak di antara mereka yang mulai menerima pesanan untuk membuat Barong yang sifatnya komersil baik dari wisatawan domestik maupun wisatawa mancanegara. Mereka membuat barong komodifikasi.  Bentuk Barong komodifikasi tidak jauh berbeda dengan Barong yang bersifat sakral yang ada di Bali pada umumnya, hanya proses pembuatan Barong komodifikasi berbeda dengan proses pembuatan Barong yang bersifat sakral. Dalam pembuatan Barong yang bersifat sakral biasanya diawali dengan upacara, menggunakan bahan kayu yang disakralkan dan memilih hari-hari tertentu yang dianggap baik untuk memulai membuatnya. Namun, dalam pembuatan Barong komodifikasi semua itu tidak dilakukan karena beberapa alasan tertentu seperti; Barong komodifikasi tidak untuk upacara keagamaan yang bersifat sakral, Barong komodifikasi fungsinya hanya untuk hiasan dan sarana pertunjukan yang bersifat komersil yang bisa ditampilkan kapan saja tanpa harus memilih hari baik.

Kata Kunci: Barong, Budaya Bali, Seni Rupa, Pariwisata

Selengkapnya dapat unduh disini

Konteks Marginalisasi Terhadap Perempuan dalam Film ‘Kartini”

Kiriman : Ni Kadek Dwiyani (Jurusan Televisi dan Film, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar)

Abstrak

Film “Kartini” (2017) besutan sutradara Hanung Bramantyo dapat disebut sebagai satu karya apresiasi terhadap perjuangan perempuan di Indonesia. Kartini sebagai salah satu sosok pahlawan perempuan Indonesia yang berjuang atas hak-hak perempuan di Indonesia sehingga layak disebut sebagai lambang perjuangan atas marginalisasi terhadap perempuan. Penokohan sosok Kartini sebagai perempuan keturunan bangsawan memiliki daya tarik tersendiri pagi penonton. Kodrat seorang perempuan dalam budaya yang melekat pada Kartini sebagai putri dari keturunan bangsawan seringkali menghadapkan dirinya pada situasi dimana benturan budaya dan logika yang dimilikinya memunculkan konflik batin, yang cenderung membuatnya dianggap sebagai anak yang berani melanggar aturan dalam keluarganya. Sosok Kartini memang tidak digambarkan sebagai sosok perempuan yang hanya diam ketika ia dihadapkan pada situasi dimana “haknya” sebagai seorang manusia tidak pernah diperhitungkan. Namun, perlakuan terhadap perempuan yang ia rasakan pada saat itu, membuatnya tergerak untuk memiliki kekuatan sendiri untuk berani menyuarakan apa yang ia inginkan atas hidup dan kodratnya sebagai seorang perempuan sehingga mampu dianggap sama dengan laki-laki. Konteks marginalisasi yang muncul dalam film “Kartini” banyak dipengaruhi oleh faktor budaya dan pola pikir yang berlaku dalam suatu system kemasyarakatan yang saat itu masih sangat tertutup untuk memberikan ruang gerak yang sama terhadap perempuan, jika dibandingkan dengan kaum laki-laki saat itu. Perjuangan sosok Kartini dalam film ini, digambarkan memiliki keinginan yang sangat kuat untuk berjuang atas marginalisasi terhadap perempuan di era itu melalui pemikiran-pemikiran cerdas yang ia miliki. Perjalanan hidup sosok “Kartini” dalam memperjuangkan persamaan hak dan martabat perempuan Indonesia setidaknya mampu diperdengarkan kepada khalayak luas, sehingga film “Kartini” dapat difungsikan sebagai media eduakasi bagi kaum perempuan yang saat ini masih mengalami ketidakadilan dalam konteks marginalisasi, untuk lebih berani memperjuangkan hak-hak yang memang seharusnya mereka peroleh.

Kata Kunci: Kartini, Perjuangan Perempuan, Marginalisasi

Selengkapnya dapat unduh disini

PENCIPTAAN GENDING KEKEBYARAN ( ERA 1915-1960)

Kiriman : I Nyoman Kariasa (Dosen Jurusan Karawitan FSP ISI Denpasar) 

Abstrak

Gending-gending kekebyaran mewarnai kreativitas penciptaan musik gamelan dewasa ini. Perkembangan penciptaan tersebut tidak bisa lepas dari tonggak era 1915-1960-an. Gamelan gong kebyar yang lahir awal abad 20 tersebut berhasil mendominasi penciptaan musik gamelan dan bahkan mampu “menampung” segala jenis gaya musik gamelan lain yang ada sebelumnya. Bahkan dewasa ini Gong Kebyar mampu “mempengaruhi” ensamble-ensamble lain yang nota bena memiliki chiri chas tersendiri, hingga akhirnya  melahirkan gaya “kekebyaran”.

Dalam tulisan ini akan disampaikan kronologis penciptaan musik kekebyaran dalam gamelan Gong Kebyar yang menjadi tonggak-tonggak sejarah penciptaan yang tersebar luas di masyarakat. Adapun tonggak-tonggak tersebut dibagi dalam beberapa era yang memiliki genre dan konsep estetika dipandang dari jenis, bentuk dan gaya musiknya. Dalam penulisan kronologis ini, akan dibahas era atau  tahun-tahun penting  yang terjadi penciptaan gending kekebyaran yang menumental dan banyak menginspirasi pada penciptaan era berikutnya. Era-era  tersebut disamping membicarakan karya-karya menumental, juga disampaikan sekilas tentang seniman penciptanya.

Kata Kunci : Penciptaan, Era, Gong Kebyar. 

Selengkapnya dapat unduh disini

Loading...