Lima mahasiswa ISI Denpasar raih lima terbaik di KKN Kebangsaan

Lima mahasiswa ISI Denpasar raih lima terbaik di KKN Kebangsaan

Sumber : https://bali.antaranews.com/berita/165184/lima-mahasiswa-isi-denpasar-raih-lima-terbaik-di-kkn-kebangsaan

Denpasar (ANTARA) – Lima mahasiswa Institut Seni Indonesia Denpasar yang mewakili kampus setempat dalam ajang KKN (kuliah kerja nyata) Kebangsaan di Kepulauan Ternate dan Tidore, Provinsi Maluku Utara, meraih prestasi lima terbaik dari 53 perguruan tinggi negeri di Tanah Air yang mengikuti kegiatan tersebut.

“Dari 53 perguruan tinggi negeri yang ikut KKN Kebangsaan itu, mahasiswa ISI Denpasar berhasil mendapat peringkat lima karena memenangkan sejumlah lomba-lomba yang digelar dalam KKN Kebangsaan tersebut,” kata Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan ISI Denpasar Dr Drs I Gusti Ngurah Seramasara MHum, di Denpasar, Kamis.

Lima duta ISI Denpasar yang telah mengharumkan kampus seni negeri satu-satunya di kawasan Bali-Nusra itu dalam ajang KKN Kebangsaan tersebut yakni Valeriana Dafrosa Juita (Prodi Seni Pertunjukan), Lidia Marganingtyas (Prodi Seni Murni), Ovika Aisanti (Prodi Desain Mode), Ni Luh Putu Puspaningsih (Prodi Desain Mode) dan I Gede Made Bayu Mertha Putra (Prodi Musik).

Menurut Seramasara, KKN Kebangsaan yang telah berlangsung belum lama ini merupakan ajang pertemuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Tanah Air untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan, serta mengembangkan rasa nasionalisme.

“Dengan pertemuan antarmahasiswa dari Sabang sampai Merauke, mereka bisa merasakan dan memahami jiwa-jiwa kebangsaan, yang pada akhirnya diharapkan bisa mengurangi radikalisme. Dalam ajang KKN Kebangsaan, peserta dituntut kreativitasnya dalam membangun rasa kebangsaan dengan nuansa seni, nuansa ekonomi ataupun sosial,” ucapnya yang juga turut mendampingi peserta KKN Kebangsaan tersebut.

ISI Denpasar, lanjut Seramasara, sebagai kampus seni tentu membangun rasa kebangsaan dengan nuansa seni. “Mahasiswa kami membawa garapan tari yang bernuansa kebangsaan dan itu sangat dikagumi di sana,” ujarnya.

Tak hanya memenangkan sejumlah perlombaan, mahasiswa ISI Denpasar menurut Seramasara juga mendapat sambutan yang baik dari masyarakat di tempat KKN Kebangsaan dilaksanakan.

“Ketika penutupan, mahasiswa ISI bahkan diantar oleh tuan rumahnya dan sampai nangis-nangis mengharapkan mereka bisa datang lagi. Mereka berharap mahasiswa ISI Denpasar bisa setiap bulan ke sana untuk membangun kesenian-kesenian di Tidore dan Ternate,” kata Seramasara.

Pihaknya berharap ajang KKN Kebangsaan ini bisa dilaksanakan secara berkelanjutan, apalagi Rektor ISI Denpasar juga sangat mendukung.
“Oleh karena itu, ke depannya ISI Denpasar akan mengirim mahasiswa minimal lima orang juga untuk mengikuti KKN Kebangsaan, karena dengan kegiatan tersebut dapat membangun rasa kebangsaan, rasa nasionalisme, kepercayaan dan landasan untuk menempatkan Pancasila sebagai dasar ideologi,” ucapnya.

Sementara itu Dr Drs I Ketut Muka MSi selaku dosen pendamping atau pembimbing mahasiswa peserta KKN Kebangsaan menambahkan, sasaran KKN Kebangsaan adalah desa-desa yang terpencil, yang diharapkan mampu menggali potensi desa dan memberikan masukan bagi masyarakat di sana sehingga bisa lebih kreatif dan produktif di bidang pertanian, seni budaya, dan sebagainya.

“Di samping itu, mahasiswa bisa meredam timbulnya radikalisme dan masalah ras. Oleh karenanya, dalam satu kelompok peserta KKN Kebangsaan itu terdiri dari sejumlah perwakilan perguruan tinggi yang digabung,” ujarnya.

Program dalam KKN Kebangsaan dinilainya sangat baik untuk membangkitkan kembali ke-Indonesiaan diantara kebhinekaan yang ada, sebab mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi bersatu padu membangun desa yang tertinggal.

Selain memenangkan sejumlah perlombaan di KKN Kebangsaan tersebut, lanjut Muka, salah satu program yang disampaikan mahasiswa ISI Denpasar juga berhasil meraih peringkat kedua terbaik.

Ovika Aisanti, salah satu mahasiswa ISI Denpasar yang mengikuti KKN Kebangsaan itu mengaku senang mendapatkan banyak pengalaman dari kegiatan yang telah diikuti tersebut.

“Saya jadi bisa bertemu teman-teman seluruh Indonesia, berbeda pulau dan berbeda suku. Saya berharap dalam KKN Kebangsaan ke depan, semakin lebih banyak peserta yang bisa dikirimkan ISI Denpasar,” ucapnya.

Wakil ISI Denpasar yang membuat program alat pemecah pala dan kenari di Pulau Tidore bahkan berhasil mendapat juara II program kerja terbaik dari 30 kelompok kebangsaan yang terbentuk saat itu.

“Kami berinisiatif membuat inovasi alat pemecah pala dan kenari karena di sana hasil rempah-rempahnya melimpah, namun masyarakat masih menggunakan batu untuk memecah pala dan kenari. Jika menggunakan batu, tentu memerlukan waktu yang lebih lama,” ujar Ovika.

Rektor ISI Denpasar hadiri pertemuan rektor di Jepang

Rektor ISI Denpasar hadiri pertemuan rektor di Jepang

Sumber : https://bali.antaranews.com/berita/165954/rektor-isi-denpasar-hadiri-pertemuan-rektor-di-jepang

Denpasar (ANTARA) – Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof Dr I Gede Arya Sugiartha, SSKar, MHum, menghadiri pertemuan atau konferensi para rektor perguruan tinggi Indonesia dan Jepang bertempat di Hiroshima University, sekaligus melakukan penjajakan kerja sama dengan sejumlah kampus di Negeri Sakura itu.

“Pertemuan rektor yang mengangkat tema ‘Collaboration in Research and Education for Sustainable and Peaceful Society’ ini, bertujuan untuk mempererat kemungkinan peluang kerjasama di bidang penelitian, pendidikan, keilmuan dari berbagai disiplin ilmu,” kata Prof Arya, di Denpasar, Rabu.

Dia menambahkan, pertemuan “The 5th Japan-Indonesia Rector Conference” yang berlangsung dari 10-11 Oktober 2019 di Hiroshima University diikuti 80 rektor dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dan 80 rektor yang ada di perguruan tinggi di Jepang.

Pertemuan tersebut dibagi dalam beberapa diskusi kelompok dan digelar sesi saling mengunjungi memperkenalkan kampus masing- masing.

Prof Arya mengatakan ISI Denpasar memang selalu ikut serta dalam pelaksanaan pertemuan para rektor perguruan tinggi dari berbagai negara. Khusus pembahasan dalam pertemuan di Jepang, lebih menitikberatkan pada hubungan lembaga tinggi kepada pemerintah, industri maupun masyarakat.

“Sebelumnya, kami ikut pertemuan rektor di Perancis, Thailand dan sekarang di Jepang, kami selalu hadir. Kesempatan ini kami manfaatkan untuk membuka peluang kerjasama antara ISI Denpasar dengan perguruan tinggi negara lain sebagai upaya mempererat jaringan antara perguruan tinggi,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, lanjut dia, yang dihadirkan sebagian besar perguruan tinggi dari bidang keilmuan dan teknologi, sedangkan sangat sedikit kampus khusus seni.

“Namun, dalam sesi saling mengunjungi dan perkenalan antar-rektor, kami menemukan beberapa universitas yang mengajarkan seni, karena yang hadir memang universitas di bidang teknologi. Kampus seni yang kami dekati memang bukan secara khusus dalam prodi seni, atau kampus seni,” katanya.

Menurut guru besar seni karawitan itu, kampus yang banyak di sana adalah jurusan desain dengan teknologinya, ada seni perfilman juga yang lebih pada pengembangan teknologi. Dalam kesempatan tersebut, diantaranya dilakukan penjajakan kerja sama dengan Kobe University, Tohuka University, dan Kimamoto University.

“Bagi kami, pendekatan ini adalah peluang strategis untuk mengembangkan kampus ISI Denpasar untuk bekerja sama dengan kampus luar negeri termasuk dalam penyerapan teknologinya,” ucap akademisi asal Pujungan, Tabanan ini.

Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar Dr I Komanga Sudirga yang juga ikut serta dalam lawatan ke Jepang itu menambahkan, dalam pertemuan para rektor kali ini memang sangat sedikit mengundang kampus seni.

“Walaupun demikian, kami tetap proaktif mencari dan menemukan kampus yang bisa dijalin kerja samanya. Jepang terhadap Indonesia sangat konsen di bidang pendidikan, cuma dalam pertemuan tersebut perguruan tinggi seni di Jepang sangat sedikit diundang,” ucapnya.

Yang hadir di sana, lanjut dia, kebanyakan pula kampus yang berkaitan dengan mitigasi bencana. Beberapa perguruan tinggi yang memiliki prodi desain sudah dilakukan pendekatan untuk melakukan kerja sama.

Motivator “pompa” layanan prima tenaga kependidikan ISI Denpasar

Motivator “pompa” layanan prima tenaga kependidikan ISI Denpasar

Sumber : https://bali.antaranews.com/berita/166132/motivator-pompa-layanan-prima-tenaga-kependidikan-isi-denpasar

Denpasar (ANTARA) – Motivator Sri Sumahardani memberikan motivasi pada seluruh tenaga kependidikan Institut Seni Indonesia Denpasar agar bisa memberikan layanan publik yang semakin prima.

“Kegiatan ini juga bagian dari rencana aksi program kerja Reformasi Birokrasi (RB) ISI Denpasar pada area perubahan pelayanan publik,” kata ketua panitia kegiatan sekaligus Kepala TIK ISI Denpasar Nyoman Lia Susanthi SS,MA, di sela motivasi dan pelatihan, di Denpasar, Kamis.

Menurut dia, kegiatan ini sekaligus sebagai cikal bakal lahirnya satu program besar di bidang reformasi birokrasi yaitu pembentukan Unit Layanan Terpadu (ULT) PINTAR satu atap di ISI Denpasar.

“ULT PINTAR ini menjadikan layanan publik lebih murah, murah, cepat dan trasparan,” ujar Lia. 

Dalam  kesempatan itu, Lia mengucapkan terima kasih kepada motivator dan “Sri Sumahardani Academy” atas partisipasinya memompa sumber daya tenaga kependidikan di kampus ISI. “Pelayanan adalah hal utama dalam sebuah instansi,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan ISI Denpasar Dr  AA Seramasara mengatakan pelatihan ini sangat penting demi meningkatkan mutu pelayanan yang berdampak pada reputasi dan citra ISI Denpasar menuju centre “of excellent”. 

Jika pelayanan publik buruk, kata Seramasara, maka akan membentuk opini yang buruk terhadap lembaga, begitu juga sebaliknya.

“Opini publik terhadap ISI Denpasar harus tetap baik, jangan sampai karena faktor pelayanan, opini lembaga menjadi buruk, karena susah sekali mengembalikan opini publik yang sudah terbentuk di luar. Marilah kita di internal satu komitmen,” kata Semarasara.

Mahasiswa ISI Denpasar dilatih jadi kader antinarkoba

Mahasiswa ISI Denpasar dilatih jadi kader antinarkoba

Sumber : https://bali.antaranews.com/berita/166238/mahasiswa-isi-denpasar-dilatih-jadi-kader-antinarkoba

Denpasar (ANTARA) – Ratusan mahasiswa semester I angkatan 2019/2020 dari 12 program studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dilatih menjadi kader pemberantasan korupsi dan penyalahgunaan narkoba.

“Kami berharap mahasiswa menjadi kader untuk memberantas korupsi. Mereka sebagai garda depan untuk memberantas korupsi, penyalahgunaan narkoba, menghindari agar tak terjangkit HIV/AIDS dan menghindari rokok,” kata Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan ISI Denpasar Dr Drs I Gusti Ngurah Seramasara, MHum, di sela kegiatan pelatihan mahasiswa di Denpasar, Jumat.

Seramasara menekankan pentingnya membangun karakter mahasiswa sebagai bagian dari aset bangsa. “Kegiatan pengembangan karakter antinarkoba, antikorupsi, itu juga memang sesuai dengan kondisi negara kita sekarang yang sedang memerangi narkoba dan korupsi. Oleh karena itu, kader-kader penerus bangsa harus dicetak sedini mungkin, diberikan pencegahan sejak awal supaya masa depan bangsa juga bagus,” ujarnya.

Seramasara menambahkan, pelatihan yang setiap tahun diselenggarakan ISI Denpasar juga mencakup materi peningkatan keterampilan manajemen dan tata kelola kegiatan kampus.

“Kami menyadari bahwa mahasiswa calon pemimpin masa depan sehingga harus terampil dalam bidang kepemimpinan. Ini yang harus ditekankan kepada mereka,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pantia Pelatihan Drs I Gusti Bagus Priatmaka MM berharap kegiatan pelatihan bisa menjadi sarana untuk menekan angka perokok dan mencegah perokok pemula di kalangan mahasiswa serta mencegah penyalahgunaan narkoba.

“ISI Denpasar telah memiliki kader antinarkoba, rokok, HIV/AIDS dan antikorupsi di setiap angkatan. Kader inilah yang menjadi pionir menangkal faktor negatif tersebut, baik di lingkungan kampus dan di masyarakat,” katanya.

Priatmaka mengingatkan bahwa banyak seniman besar yang menciptakan karya tanpa narkoba dan rokok. “Jadi kalau ada yang bilang seniman itu harus merokok untuk dapat inspirasi apalagi pakai narkoba, itu tidak benar, ngawur itu. Karya terbaik justru lahir dari tubuh yang sehat,” katanya.

Pelatihan yang berlangsung selama empat hari bagi mahasiswa ISI Denpasar menghadirkan narasumber dari Universitas Udayana, Badan Narkotika Nasional (BNN), Dinas Sosial Provinsi Bali, Indonesia Corruption Watch (ICW), serta dosen ISI Denpasar.

ISI Denpasar jamu peserta Jambore Fotografi Indonesia

ISI Denpasar jamu peserta Jambore Fotografi Indonesia

Sumber : https://bali.antaranews.com/berita/166628/isi-denpasar-jamu-peserta-jambore-fotografi-indonesia

Denpasar (ANTARA) – Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar mendapatkan kehormatan menjamu ratusan peserta Jambore Fotografi Mahasiswa Indonesia (JFMI) XII Tahun 2019 yang dipusatkan di Bali dari 18-29 Oktober 2019.

“Kita patut berbangga karena Bali dipilih sebagai tuan rumah. Istimewanya lagi, ISI Denpasar dipercaya menjadi tempat pembukaan JMFI XII ini. Hal ini membuktikan, fotografi di ISI Denpasar telah dikenal baik di kancah nasional,” kata Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan ISI Denpasar Dr Drs I Gusti Ngurah Seramasara MHum, di Denpasar, Senin.

Terkait dengan JMFI kali ini yang mengusung tema “Melali ke Bali”, lanjut Seramasara, jangan didefinisikan sebagai melancong semata, tetapi lebih kepada momentum eksplorasi kegiatan penelitian lewat fotografi. Para peserta juga diminta meningkatkan kebersamaan, bertukar pikiran dan manggali potensi yang ada untuk menyikapi perkembangan Teknologi 4.0.

Menurut Seramasara, fotografer sesungguhnya adalah peneliti yang tangguh, namun jarang disadari. Sebab, karya yang mereka hasilkan memberikan informasi penting ke publik terkait isu politik, sosial dan budaya.

“Saya baru menyadari bahwa begitu pentingnya makna sebuah foto. Bisa dibayangkan jika suatu informasi tidak dilengkapi dengan foto, tidak akan menjadi daya tarik publik,” ucapnya.

Sebelumnya, Ketua Panitia JMFI asal ISI Denpasar Adi Rizky Ramdhani Prastyo mengatakan tema JMFI “Melali ke Bali” bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi dan tempat berbagi pengalaman antar-mahasiswa fotografi se-Tanah Air. “Pada dasarnya, kami ingin mempererat tali silaturahmi dengan pecinta fotografi se-Indonesia,” ujar Adi Rizky.

Ia berharap JMFI menjadi wadah kegiatan fotografi mahasiswa sehingga mampu menyesuaikan diri dan mengikuti perkembangan teknologi kekinian tanpa meninggalkan norma sosial khas Nusantara dan norma agama.

JMFI dirangkaikan pula dengan seminar fotografi, “hunting” di kawasan heritage street foto Kota Denpasar, camp di Baturiti, Tabanan, “hunting” fotgrafi model scape, bedah karya hasil workshop fotografi dan ditutup dengan penentuan tuan rumah JMFI ke-XIII tahun 2020.

“Pelaksanaannya memang digilir. Kemarin (2018) tuan rumahnya Jember, Jawa Timur, sekarang Bali dan kita tentukan tuan rumah berikut saat penutupan,” ucapnya.

Sementara itu, Empu Ageng Fotografi Indonesia Oscar Matuloh juga berpendapat bahwa fotografer masih menjadi profesi menjanjikan ke depan terlebih dengan berkembangnya market-market dalam jaringan.

“Memang dari segi ekonomis, harga sebuah foto beda jauh dengan lukisan. Karena lukisan dibuat satu, jika foto bisa dicetak berulang-ulang. Tapi bukan itu orientasi seorang fotografer sejati,” ujar Oscar.

Oscar tak menampik dewasa ini setiap orang memiliki ponsel cerdas yang dilengkapi kamera canggih. Hal ini membuat semua orang seolah-olah mampu menjadi fotografer. Namun seleksi alam akan berlaku. “Nanti alam sendiri yang menyeleksi mana karya fotografer yang kompeten dan mana yang bukan,” ucapnya.

ISI Denpasar usulkan guru besar jalur kekaryaan

ISI Denpasar usulkan guru besar jalur kekaryaan

Sumber : https://bali.antaranews.com/berita/164318/isi-denpasar-usulkan-guru-besar-jalur-kekaryaan

Denpasar (ANTARA) – Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof Dr I Gede Arya Sugiartha, SSKar, MHum, sedang berupaya mengusulkan calon guru besar atau profesor bisa diperoleh lewat jalur kekaryaan atau karya seni (tacit knowledge) ke Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

“Saya sangat menyayangkan banyak karya seni internasional, tetapi dosennya tidak diberikan kebijaksanaan untuk syarat guru besar, padahal program studi penciptaan diakui oleh pemerintah,” kata Prof Arya saat menggelar diskusi kelompok terfokus (FGD) dengan menghadirkan Dirjen SDM, Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Prof Dr Ali Gufron Mukti, PhD, di ISI Denpasar, Kamis.

Rektor dari Pujungan, Kabupaten Tabanan, ini mengusulkan hal tersebut karena berawal dari kegalauannya terhadap syarat guru besar yang hanya menitikberatkan pada karya tulis (jurnal) bereputasi. Sedangkan jalur kekaryaan tidak menjadi sesuatu yang diperhitungkan, sifatnya hanya menambah angka kredit secara umum.

“Prodi kita ‘kan minat penciptaan dan pengkajian, kenapa syarat guru besar hanya di pengkajian saja? Ini yang ingin kita sampaikan ke pusat agar perguruan tinggi yang punya kekhasan dibukakan jalur khusus, karena seperti kita kuatnya memang di penciptaan karya,” ucapnya pada acara yang juga dihadiri Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati itu.

Kalau usulan guru besar jalur kekaryaan dibuka, maka diperkirakan sebanyak 30 orang atau 50 persen dari total doktor yang ada di ISI Denpasar berpeluang meraih guru besar.

“Peluang ini juga dimungkinkan oleh Edaran Menteri yang menyatakan kami boleh mengajukan guru besar tidak tetap melalui skema tacit knowledge,” ujarnya.

Guru besar seni karawitan ini mengakui cukup banyak dosen di kampus seni yang memiliki karya internasional, namun terbentur syarat reguler pengusulan guru besar karena tidak terlalu fasih menulis.

Selain itu, jurnal bereputasi untuk seni di Indonesia terbatas, sehingga calon guru besar harus mencari jurnal ke luar negeri dengan biaya yang tidak sedikit. Prof Arya berharap Kemenristekdikti memberi dukungan terhadap kondisi di kampus-kampus seni di seluruh wilayah di Nusantara.

Sementara itu, Dirjen SDM, IPTEK dan Dikti, Kemenristekdikti Ali Gufron Mukti menyambut baik usulan ini dan akan dijadikan bahan kajian di pusat. Terlebih Kemenristekdikti sedang getol meningkatkan jumlah guru besar yang secara nasional tergolong masih kecil.

Ali Gufron mengemukakan, hingga 2014, jumlah guru besar se-Indonesia sekitar 4.000 orang. Saat ini jumlahnya merangkak naik menjadi 6.000 orang. “Kami akan terus genjot hingga 8.000 guru besar dari 280 ribu total dosen di Indonesia,” ucapnya.

ISI Denpasar, lanjut Ali Gufron, memiliki 217 dosen, enam di antaranya sudah menyandang guru besar. Jika dipersentasekan sejumlah 2,7 persen atau lebih tinggi dari rata-rata nasional yang hanya 2,2 persen.

Loading...