Mural Potret Maestro Bali Hiasi Jalan Menuju Kampus ISI Denpasar

Mural Potret Maestro Bali Hiasi Jalan Menuju Kampus ISI Denpasar

Rayakan Lima Tokoh Besar Seni Bali

Foto: Mural potret lima maetro seni Bali menghiasi tembok utara pada jalan menuju kampus ISI Denpasar

INSTITUT Seni Indonesia (ISI) Denpasar (Bali) tengah aktif dalam upaya mengembangkan platform pendidikan seni-desain dan budaya yang berfokus pada praktik kemaestroan. Dalam konteks ini, peran maestro menjadi sangat penting sebagai tokoh puncak bidang seni yang menginspirasi dalam menghadirkan karya-karya monumental.

Sedayung dengan upaya tersebut, ISI Denpasar bersama Origami (Organisasi Gabungan Mahasiswa Seni) menghadirkan karya mural potret lima tokoh maestro seni Bali. Karya seni komunal ini menghiasi tembok utara pada jalan menuju kampus ISI Denpasar. Mural dibuat serangkaian kegiatan pameran seni ORIGAMI #8 di Nata-Citta Art Space (N-CAS) ISI Denpasar, 27 – 30 Desember 2023.

Koordinator tim mural, I Komang Merta Sedana, S.Sn, yang akrab disapa Manggen mengatakan, mural Maestro ini merupakan inisiatif tim Origami dengan asistensi dari Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana. Lima maestro seni yang diabadikan dalam mural, yakni maestro lukis Nyoman Gunarsa, maestro lukis dan arsitektur I Gusti Nyoman Lempad, maestro tari I Ketut Mario, maestro karawitan I Wayan Beratha, dan maestro tari Ida Bagus Oka Wirjana (Blangsinga).

“Lima maestro Bali ini kami pilih atas pertimbangan kontribusi yang besar dalam perkembangan seni dan budaya di Bali serta Indonesia. Karya-karya mereka tidak hanya menginspirasi, tetapi juga membantu melestarikan warisan seni dan tradisi lokal,” ungkap Manggen.

Foto: Mural potret lima maetro seni Bali menghiasi tembok utara pada jalan menuju kampus ISI Denpasar

Manggen menjelaskan bahwa mural dengan panjang sekitar 50 meter dan tinggi 3 meter ini melibatkan kolaborasi 72 anggota Origami, terdiri dari 9 alumni dan 63 mahasiswa ISI Denpasar. Proses pembuatan mural dilakukan secara bergantian mulai tanggal 27 Desember 2023 hingga 3 Januari 2024.

Menurut alumni Program Studi Seni Murni ini, mural ini bukan hanya sekadar karya seni visual, tetapi juga merupakan bentuk seni jalanan yang dapat diakses dan dinikmati oleh masyarakat secara langsung. Karakter seni yang bersifat publik ini membantu menyampaikan pesan dengan lebih mudah, sementara juga memberikan wawasan kepada generasi muda tentang seniman-seniman Bali yang telah mencapai prestasi di tingkat global.

“Kreasi mural Maestro ini merupakan wujud komitmen kami untuk memperkaya lingkungan kampus dengan seni dan sekaligus memberikan penghormatan kepada para maestro yang telah berkontribusi besar dalam perkembangan seni di Indonesia” ujar alumni ISI Denpasar Angkatan 2006 ini.

Selain mural potret lima mestro seni Bali, Manggen bersama tim mural juga melukis sejumlah karakter lain. Salah satunya, karater boneka ikonik muralis Wild Drawing (WD). WD merupakan seniman mural mumpuni kelahiran Bali yang karya-karyanya menjadi perhatian dunia.

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana menyatakan apresiasi dan dukungan terhadap kreatifitas Origami dalam menghadirkan karya seni yang monumental ini. Beliau berharap bahwa melalui kegiatan seperti ini, semakin banyak generasi muda yang dapat terinspirasi dan belajar dari jejak perjalanan para maestro Bali yang telah memberikan kontribusi besar dalam dunia seni.

“Karya mural ini menjadi langkah yang sangat positif dalam mendukung upaya pengembangan dan peningkatan apresiasi terhadap seni, desain, dan budaya di ISI Denpasar. Semoga melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa dan masyarakat umum dapat semakin terinspirasi oleh nilai-nilai dan kontribusi luar biasa yang telah diberikan oleh para maestro Bali dalam dunia seni,” ujar Guru Besar Sejarah Seni ini. (ISIDps/Humas-RT)

Rektor Pertama ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA. Berpulang

Rektor Pertama ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA. Berpulang

INSTITUT Seni Indonesia (ISI) Denpasar (Bali) kehilangan tokoh yang menjadi bagian dari sejarah kelembagaan perguruan tinggi seni terbesar di Bali ini. Guru Besar Etnomusikologi dan Mantan Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA. berpulang pada usia 68 tahun, Selasa, 16 Januari 2024, dini hari.

Rektor Pertama ISI Denpasar yang akrab disapa Prof Rai ini merupakan sosok akademisi seni yang mumpuni.  Prof Rai telah banyak melahirkan karya seni, makalah dan penelitian di tingkat lokal Bali, nasional dan internasional. Pria kelahiran Ubud, Kabupaten Gianyar pada 26 Mei 1955 dikenal sebagai seorang etnomusikolog, komposer dan peneliti musik bangsa-bangsa.

Prof Rai pernah menduduki jabatan sebagai Ketua STSI Denpasar 2002 s.d. 2003; Pj. Rektor ISI Denpasar 2003 s.d. 2004; dan Rektor ISI Denpasar 2004 s.d. 2013. Dosen lulusan University Maryland Baltimore Country (UMBC) ini hingga kepergiannya masih aktif mengajar di Fakultas Seni Pertunjukan dan Pascasarjana ISI Denpasar.

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana menyampaikan rasa duka cita mendalam atas kepergian Prof Rai. Menurut Prof Kun Adnyana Prof Rai S, merupakan sosok senior dalam bidang etnomusikologi. Karya tulis yang dihasilkan dijadikan rujukan oleh peneliti etnomusikologi di Indonesia, seperti konsep musikal dan ekstramusikal. Selain itu, dalam pendirian ISBI Tanah Papua, Prof Rai S sangat berperan vital, karena sekaligus sebagai Rektor pertama kampus ini.

“Kami seluruh sivitas akademika ISI Denpasar sangat merasa kehilangan, atas berpulang Guru Besar Etnomusikologi Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. Saya Atas nama Pimpinan dan Sivitas Akademika ISI Denpasar Denpasar menyampaikan bela sungkawa dan duka cita mendalam,” ungkap Prof Kun Adnyana. (ISIDps/Humas-RT)

Rektor ISI Denpasar, Prof Kun Adnyana

Rektor ISI Denpasar, Prof Kun Adnyana

Raih Anugerah Kebudayaan Indonesia

Foto: Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana (kanan) menerima penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) tahun 2023 kategori Pelopor Pembaru, Jumat (27/10) di Jakarta.

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana raih penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) tahun 2023, dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makariem M.B.A. Prof. Kun Adnyana meraih penghargaan kategori Pelopor Pembaru dalam keahlian perupa dan kurator seni. Penghargaan diserahkan pada Puncak Anugerah Kebudayaan Indonesia, Jumat (27/10) di Jakarta.

Penghargaan AKI kategori Pelopor Pembaru, merupakan bentuk apresiasi konkret Kemdikbudristek melalui Ditjen Kebudayaan terhadap perseorangan atau lembaga/kelompok yang secara luar biasa melakukan kerja pemajuan seni-budaya dalam waktu yang panjang. Prof Kun Adnyana terpilih oleh tim juri, karena aktivitas dan pencapaian karya seni rupa yang menonjol. Guru Besar sejarah seni ini, di tengah tugas sebagai Rektor ISI Denpasar, juga tetap menjaga aktivitas berkarya, termasuk intensif melakukan pameran tunggal internasional. Karya-karya seni rupa kontemporer yang dicipta, berdasar riset yang solid. Seperti sejak tahun 2017, melakukan riset ikonologi relief Yeh Pulu, guna menghasilkan karya seni lukis kontemporer, bertema kepahlawanan sehari-hari orang-orang biasa. Karya seni lukis tersebut telah dipamerkan di Sydney-Australia, Tainan-Taiwan, Jakarta, dan juga Ubud-Bali. Hal pembaru, juga terkait perannya sebagai kurator seni rupa, baik mengkreasi even nasional maupun internasional.

Prof Kun untuk ISI Denpasar membangun skema diseminasi internasional Bali Padma Bhuwana juga Bali Nata Bhuwana sejak tahun 2021. Dedikasi luar biasa bidang pemajuan seni budaya oleh mantan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ini, juga diapresiasi Arts Magazine Korea Selatan melalui penghargaan World Peace Artist Awards, dan anugerah Kerthi Bali Sewaka Nugraha tahun 2023 oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.                  

Dosen ISI Denpasar Raih Nominasi Prestisius Emmy Awards

Dosen ISI Denpasar Raih Nominasi Prestisius Emmy Awards

Foto: Denny Chrisna, dosen ISI Denpasar peraih nominasi Outstanding Cinematography dalam Daytime Creative Arts & Lifestyle Emmy Awards

NAMA Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar kian melambung. Ini seiring kiprah sivitas akademikanya yang intens mengepakkan sayap ke ranah internasional. Terbukti, Dosen Program Studi Produksi Film dan TV (FTV), Fakultas Seni Rupa dan Desain, I Made Denny Chrisna Putra, S.Sn., M.Sn. meraih nominasi pada ajang Daytime Creative Arts & Lifestyle Emmy Awards di the Westin Bonaventure Hotel, Los Angeles, 16 Desember 2023.

Nominasi Outstanding Cinematography diraih Denny Chrisna melalui karya apiknya dalam proyek film dokumenter berseri berjudul “HOME” yang disiarkan melalui platform Apple TV. Nominasi prestisius ini diumumkan oleh National Academy of Television Arts & Sciences (NATAS) melalui laman resmi Emmy Awards.

Denny Chrisna menuturkan dirinya terlibat sebagai sinematografer dalam proyek film “HOME” yang diproduksi pada April 2021. Film ini dirilis Juni 2022 di platform Apple TV. Produksi film dokumenter “HOME” melibatkan lebih dari 50 kru dari Indonesia dan mancanegara. “Dalam projek ini saya bekerjasama dengan director Sami Khan, peraih nominasi di Academy Award untuk Best Documentary Short Film. Secara technical kami menggunakan sinema kamera Sony Venice dan Sony FX9 untuk B-cam,” tutur dosen kelahiran 21 Desember 1988 ini.

Denny Chrisna bukan sosok baru di dunia sinematografi. Pemilik rumah produksi DENFILM Creative Bali ini memiliki portofolio dan sederet karya gemilang.  Film kolaborasinya dengan mahasiswa ISI Denpasar, “RATIH” sukses diputar di platform BioskopOnline. Selain itu, Denny terlibat sebagai promotor untuk dua karya film mahasiswa ISI Denpasar yang tayang di program surprise screening JAFF ke-18. Pencapaian ini menunjukkan dedikasi magister lulusan ISI Yogyakarta ini dalam mendukung dan membimbing sineas muda dalam mengembangkan potensi mereka di dunia perfilman.

Foto: Denny Chrisna, dosen ISI Denpasar peraih nominasi Outstanding Cinematography dalam Daytime Creative Arts & Lifestyle Emmy Awards

Sebagai dosen yang aktif di dunia industri, Denny turut menyoroti tantangan pendidikan perfilman di masa depan. Menurutnya fokus utama adalah memastikan bahwa mahasiswa Film dan Televisi (FTV) serta lulusannya memiliki kesempatan untuk diterima di industri. Proses ini, sayangnya, mengahadapi sejumlah kendala, terutama terkait dengan keterbatasan peralatan teknis yang sangat vital dalam proses pembelajaran.

Menurut Denny Chrisna, peralatan praktikum yang memadai tidak hanya berdampak pada kemajuan akademis mahasiswa tetapi juga secara langsung mempengaruhi daya saing mereka di dunia industri, terutama dalam bidang sinematografi. “Besar harapan agar kampus mampu merespons dengan efektif sistem yang diberlakukan oleh Kementerian Pendidikan terkait pengadaan alat praktikum. Hal ini diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar dengan standar teknis yang sesuai dengan tuntutan industri,” harapnya.

Sineas kelahiran Gianyar ini menegaskan komitmennya untuk tetap membuka peluang akses mahasiswa ke dunia industri. Menurutnya, ada stigma yang melekat bahwa lulusan sekolah film akan kesulitan untuk masuk dan bertahan di industri tanpa jaringan yang memadai. Dalam upayanya, Denny mengamati bahwa keberadaan dosen-dosen yang aktif di industri memiliki potensi besar untuk memberikan dukungan lebih lanjut. Mereka diharapkan dapat berperan dalam pemetaan dan pembentukan jejaring, membantu mahasiswa dalam menjembatani kesenjangan menuju kesuksesan di industri. Dengan demikian, langkah-langkah konkret diharapkan akan diambil untuk memastikan mahasiswa tidak hanya memiliki pemahaman teoritis tetapi juga keterampilan praktis serta koneksi yang memadai.

Denny Chrisna meyakini kolaborasi yang lebih erat antara ISI Denpasar dan industri menjadi kunci dalam menghadirkan lingkungan Pendidikan yang lebih adaptif. “Melalui integrasi yang lebih baik antara dunia pendidikan dan industri, dapat terbentuk lingkungan pendidikan sesuai dengan tuntutan dinamika dunia kerja. Dengan demikian, para mahasiswa akan lebih siap dan terampil menghadapi tantangan di industri film,” imbuhnya. (ISIDps/Humas-Rara)

Mahasiswi ISI Denpasar Raih Platinum Prize di Universal Star Music Competition 2023

Mahasiswi ISI Denpasar Raih Platinum Prize di Universal Star Music Competition 2023

Foto: Clarissa Jessy Setiawan (kiri) dalam video performance untuk Universal Stars Music Competition 2023

Prestasi menjadi bagian dari tradisi akademik Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Teranyar, Clarissa Jessy Setiawan, mahasiswi Program Studi (Prodi) Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, meraih Platinum Prize kategori Voice Star dan Unique Musical Character Special Star dalam ajang Universal Stars Music Competition 2023. Mahasiswi yang akrab disapa Jessy ini meraih kemenangan pada Season 3 berkat performance apiknya dalam bernyanyi soprano.

Mahasiswi kelahiran Malang, Jawa Timur, 20 April 2022, ini punya rekam jejak bermusik cukup panjang. Dia menekuni musik sejak usia tiga tahun. Piano menjadi instrumen pertama yang mendandani talentanya, terkhusus musik klasik. ‘Persahabatan’ dengan piano dilengkapi kegigihan berlatih olah tarik suara. Dia pun makin mantap menjelajahi bakatnya sebagai penyanyi soprano.

Jessy menceritakan awal mula mengikuti Universal Stars Music Competition 2023. Informasi mengenai kompetisi ini dia dapatkan melalui group kompetisi musik dunia. Kompetisi diikuti dengan mengirim video bernyanyi durasi 9 menit 42 detik membawakan 3 lagu genre klasik. Lagu tersebut Meine Lippen, sie küssen so heiß – Franz Lehàr, In uomini – Mozart, dan Quando m’envo – Puccini. Vocal Jessy dalam tiga lagu itu diiringi alunan suara piano yang dimainkan Alfin Syahrian, S.Sn, alumni ISI Denpasar. Dia mengikuti kompetisi pada kategori Voice C (umur 20 ke atas). Video nyanyian itu diadu dengan puluhan peserta dari seluruh dunia.

Gadis lulusan SMAK Kolese Santo Yusup, Malang ini mengaku mempersiapan video bernyanyi agak terburu-buru. Karena harus mengejar tenggat waktu pengiriman 15 Agustus 2023. Ternyata, kualitas tak memungkiri hasil. Di balik keterburuan itu, gadis berkulit kuning langsat ini terkejut saat tahu menjadi yang terbaik melalui laman resmi Universal Star Music Competition, Kamis (30/8). Dia tidak berekpektasi tinggi, apalagi sampai meraih platinum prize. “Karena pada kompetisi sebelumnya, saya hanya dapat silver prize, dua tingkat di bawahnya. Saya sangat tidak menyangka,” ujar Jeesy saat ditemui di Gedung Rektorat ISI Denpasar, Kamis (7/9).

Jessy mengakui passion bermusiknya kian terpacu saat awal mendalami musik di ISI Denpasar. Kecintaan bermusik pun sejurus dengan aura penimbaan ilmu di kampus yang sedemikian hangat. Sebelum kuliah di ISI Denpasar, Jessy bersekolah di SMAK Kolese Santo Yusup, lanjut diterima ISI Denpasar dan ISI Yogyakarta. Setelah berdiskusi dengan orangtua, Jessy memutuskan untuk memilih ISI Denpasar. Dia berkeyakinan, ISI Denpasar menjadi lembaga pendidikan terbaik dalam penempaan mahasiswa menjadi calon-calon seniman besar. Dia amat bersyukur dilatih oleh Heny Janawati, B.Mus., M. Mus., salah seorang dosen Prodi Musik ISI Denpasar, sekaligus penyanyi professional mezzo-soprano. Setahunya, Heny malang melintang dalam dunia tarik suara dan pertunjukan, khususnya opera.

Kini, tidak hanya aktif kuliah dan mengikuti pelbagai kompetisi, anak tunggal dari Toni Setiawan dan Retno Susanti ini juga mengajar olah vokal secara privat. Anak didiknya umur 3 – 14 tahun. Tak terkecuali, job menyanyi bagian dai kesibukannya. Sebelum platinum prize pada Universal Star Music Competition 2023, Jessy telah menyabet gelar prestasi, antara lain, Top 5 NAFA’s Singing Competition di Nayang Academy Of Fine Arts (NAFA) Singapore 2021, medali perak bernyanyi klasik kategori pelajar senior pada World Open Online Music Competition, Germany 2022, Vokalis ISI Denpasar Orchestra untuk “Bulan Bung Karno” G20 : FEKDI 2022 with Bank Indonesia 2022 dan 2023, dan Vokalis Amadeus Orchestra “Oera in Paradise” Bali Jani 2023.

Koordinator Program Seni (Koprodi) Musik. Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar, Ketut Sumerjana, S.Sn., M.Sn, mengaku bangga atas raihan prestasi mahasiswi Prodi Musik semester 5 ini. Dia meyakini Jessy merupakan penyanyi soprano yang matang dalam levelnya. Sumerjana mengapresiasi kegigihan Jessy dalam mengikuti pelbagai ajang kompetisi. Menurutnya, mengikuti kompetisi bukan sekadar berlomba meraih juara, tapi juga kesempatan menjalin kemitraan dengan seniman-seniman hebat.  

Sumerjana berpesan agar Jessy konsisten untuk menempa diri dalam bermusik klasik, khususnya bernyanyi soprano. Dia berharap prestasi Jessy jadi cemeti bagi mahasiswa lain untuk menempa talenta. Dengan itu. prestasi yang diraih tak hanya di tingkat kampus dan local Bali, tapi pada event-event lebih luas. “Ayo mahasiswa ISI Denpasar ikuti jejak Jessy, apapun bentuk talenta yang kalian miliki,” ujar dosen musik asal Sangsit, Singaraja ini. Rara(ISIDps/Humas).

Karma Citta Waskita Inagurasi dan Sapa Publik Guru Besar Anyar Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati, S.ST.,M.Si

Karma Citta Waskita Inagurasi dan Sapa Publik Guru Besar Anyar Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati, S.ST.,M.Si

Hadir Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, Gubernur Bali yang diwakili oleh Sekda Prov. Bali, Kadisbud Prov. Bali, Kadisbud Kota Denpasar Seniman Prof. Dr. I Wayan Dibia,SST.,MA, Jero Gede Batur Beduuran dan Pemuka Adat Baturlainnya, serta para undangan lainnya.

 ISI Denpasar menjemput Senat Institut menuju ruangan sebagai petanda dibukanya acara Inagurasi Guru Besar Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati, S.ST.,M.Si, yang kemudian dilanjutkan dengan penampilan kesenian Rudat dari Desa Kepaon Denpasar sebagai pengantar Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati, S.ST.,M.Si menuju ruangan.

Tak kalah penting, tari kebesaran Siwa Nata Raja yang selalu hadir dalam acara-acara besar Insitut Seni Indonesia Denpasar. Sambutan Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn.,M.Sn menyampaikan beberapa capaian kerja ISI Denpasar yang telah diraih, diantaranya; perbaikan layanan pendidikan, penghargaan yang telah diperoleh oleh Lembaga, dan keberadaan Guru Besar di kalangan ISI Denpasar yang kini tercatat ada 10 Guru Besar sesuai dengan bidang ilmunya, serta ISI Denpasar yang kini tengah mempersiapkan diri untuk menjadi ISI Bali.

Sambutan Wali Kota Denpasar dibacakan langsung oleh I Gusti Ngurah Jaya Negara. Dalam sambutan beliau, mengapresiasi Lembaga ISI Denpasar sebagai salah satu perguruan tinggi negeri yang tetap menjadi barometer pertumbuhan kesenian Bali. Diakhir sambutannya, beliau mengucapkan selat kepada Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati, S.ST.,M.Si atas pencapaian Guru Besarnya. Selanjutnya sambutan Gubernur Bali yang disampaikan oleh Sekda Prov. Bali. Dalam sambutannya beliau juga menyampaikan selamat kepada Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati, S.ST.,M.Si atas capaian jabatan Guru Besarnya.

Sosok Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati, SST., M.Si., lahir di Malang pada tanggal 21 Januari 1962 Adalah anak dari pasangan Ida Bagus Anom (alm) dengan I Gusti Ayu Muliani, putri ke empat dari delapan bersaudara. Ida Ayu Trisnawati menikah dengan A.A.Ngurah Ketut Suparta SE.,M.Si Pensiunan Dispenda Prop.Bali saat ini sebagai Bendesa Adat Poh Gading, Denpasar, memiliki 3 orang Putra-Putri. Pertama, Dokter Anak Agung Ayu Diah Citradewi, M.Biomed, Sp.M, Kedua, Dokter Anak Agung Ngurah Bayu Putra, yang saat ini sedang Pendidikan Spesialis Bedah di Udayana, ketiga, Anak Agung Ngurah Surya Putra, B.Bus, bekerja di Ausi ( Sydney ) dan seorang anak asuh yaitu Herdiyan Adi Prasetia,S.pd.,M.pd. Ida Ayu Trisnawati memiliki 8 orang Cucu. Saat ini Ida Ayu Trisnawati bekerja sebagai Dosen Program Studi Tari, Fakultas Seni Pertunjukan (FSP), Institut Seni Indonesia Denpasar dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Seni Program Magister Institut Seni Indonesia Denpasar. Setelah lulus S2 pada Kajian Budaya pada UNUD Denpasar (1999-2001) dan S3 Bidang Kajian Budaya pada UNUD Denpasar (2012- 2016) kini masih aktif sebagai peneliti, penulis dan praktisi seni. Sebagai praktisi seni telah berkesempatan untuk menjadi duta seni ke beberapa negara seperti, Jepang Tokyo tahun 1981, Amerika,1983, penari istana negara tahun 1981-1984 sebagai penari Manuk Rawa ciptaan I Wayan Dibia, tour Canada tahun 1986, Thailand (1996), Iwate-Jepang (1997), Kamboja (2007), Perancis (2008), dan Singapore 2019, dan lain-lain. Kini masih aktif mengajar di Prodi Tari dan Pascasarjana ISI Denpasar, aktif berkarya seni, meneliti, menulis artikel ilmiah, seminar, dan mengabdi di masyarakat.

Orasi Ilmiah dari Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati, S.ST.,M.Si yang bertajuk “Ceria Menembus Kebisuan”.  Orasi dimulai dari penyampaian pengabdian Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati, S.ST.,M.Si di “Desa Kolok” yang dimulai dari tahun 2016.  Ditengah keterbatasan masyarakatnya, mereka memiliki potensi seni dan semangat tinggi untuk berkesenian yang patut dibina.

Desa Bengkala, sebagai salah satu desa tua dikawasan Bali Utara, tidak saja memiliki keunikan secara budaya dan karakter masyarakatnya. Namun ada juga keunikan yaitu adanya masyarakat yang mengalami kelainan berupa tuli bisu (dibaca kolok). Mereka adalah kelompok masyarakat tuna rungu dan tuna wicara. Penduduk yang bisu ini atau oleh orang Bengkala menyebutnya dengan orang kolok hidup selayaknya masyarakat yang normal. Keadaan tuli-bisu ini dialami secara genetik (kelainan fungsi pendengaran sejak lahir). Terlepas dari kondisi fisik yang tidak sempurna tetapi masyarakat kolok di Desa Bengkala bisa beraktivitas layaknya masyarakat normal, termasuk salah satunya dengan kegiatan menari. Desa Bengkala terkenal dengan kelompok Tari Janger Koloknya. Tari Janger Kolok menjadi ikon penting dalam perkembangan kesenian di Desa Bengkala. Kondisi itu tentu menarik untuk terus dikembangkan sebagai salah satu potensi yang bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata. Tujuannya terjadi peningkatan

kesejahteraan hidup masyarakat di desa ini.

Keberadaan masyarakat Kolok Bengkala sangat penting karena mereka menjadi contoh unik tentang kemampuan manusia dalam menciptakan bahasa baru dan mengadaptasinya dalam situasi yang unik. Mereka menunjukkan bahwa bahasa isyarat tidak hanya menjadi sarana komunikasi bagi penyandang tunarungu, tetapi juga dapat digunakan oleh komunitas yang lebih luas atau masyarakat normal.

Melihat begitu besarnya potensi seni yang dimiliki oleh masyarakat Kolok di Desa Bengkala, Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati, S.ST.,M.Si tercetus ide untuk menciptakan tarian kolok dengan judul Tari Baris “Bebila” diambil dari (Baris Bebek Bingar Bengkala) adalah tari garapan baru yang dikembangkan sesuai dengan potensi seni di Desa Bengkala yang terbatas secara fisik yaitu orang bisu tuli diciptakan pada tahun 2017. Tari baris yang dikembangkan adalah tarian baris yang mengambil beberapa gerak-gerak pegambuhan. Secara konsep, kata ‘baris’ menggambarkan pasukan. ‘Bebek yaitu itik, sedangkan Bingar adalah ceria dan Bengkala adalah nama Desa. Jadi Tari Baris Bebila (Bebek Bingar Bengkala) adalah Tarian yang menggambarkan keceriaan pasukan yang semangatnya melampaui batas kemampuan dibawah satu komando. Tari Baris Bebila ini terinspirasi dari pengembala bebek, ‘bebek yang berbaris mengikuti si pengembala yang memegang sebatang bambu/penyisih.

Tari Baris Bebila ini membawa property tombak. Layaknya tarian Baris upacara, beragam tarian ‘baris’ menjadi inspirasi, sekelompok penari yang membawa senjata, perlengkapan upacara,dan mengenakan kostum yang berbeda warna. Gerakan tarian ini sesuai dengan kemampuan penari yang terbatas, sehingga penari mudah mengikuti gerakannya. Penari tari Baris Bebek Bingar Bengkala terdiri dari tujuh orang laki-laki yang membawa tombak. Satu orang berperan sebagai pimpinan. Diakhir orasinya ditampilkan Tari Baris Bebila yang diringin Kendang Beliq dan kemong. Penggunaan instrumen ini merupakan pilihan agar penyajiannya mudah untuk memberikan tanda komando/pengamatan dalam tarian.

Kesenian Rudat, Desa Kepaon dan Penari Baris Bebila

Dokumentasi Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati, S.ST.,M.Si, tahun 2023

Diakhir orasinya disampaikan ucapan teeima kasih kepada seluruh yang membantu terlaksananya acara pada hari ini. Penutupan acara dilakukan oleh Ketua Senat ISI Denpasar Dr. Ni Kadek Arsiniwati, SST.,M.Si dan nyayian Mars ISI Denpasar.

Loading...