Perkembangan Kerajinan Tulang

Oleh: I Ketut Sida Arsa

Sejak  jaman purba manusia sudah mampu membuat karya seni dan kerajinan dengan baik. Mereka telah mampu membuat barang dengan teknik dan bahan yang sederhana, mudah dikejakan bahkan sampai pada barang-barang yang menggunakan teknik, rumit, dan komplek dengan bahan yang sulit dikerjakan. Bahan-bahan yang mudah dikerjakan seperti tanah liah, sedangkan bahan yang sulit dikerjakan seperti kayu, batu dan logam (Gustami, 2004). Dalam menciptakan barang kerajinan pada saat itu faktor-faktor kegunaan menjadi prioritas utama namun faktor estetika pun tidak mereka abaikan begitu saja hal itu terlihat dari beragamnya peninggalan yang ditemukan seperti; nekara, berbagai macam kapak batu dan berbagai macam peralatan rumah tangga lainnya (Gustami,2004)

Peradaban manusia terus berkembang begitu juga dengan perkembangan produk seni dan kerajinan juga meningkat. Peningkatan itu antara lain timbulnya deversifikasi jenis dan fungsi produk, serta meningkatnya estetika suatu barang. Perubahan apresiasi masyarakat terhadap produk seni dan kerajianan pada keinginan mereka tidak hanya untuk memiliki, tetapi menyangkut pemberian penghargaan terhadap karya seni yang diperlukan (Sudarso,1990).

Salah satu dampak dari perubahan apresiasi masyarakat terhadap produk seni dan kerajinan sangat terlihat pada perkembangan seni ukir, dimana penerapan seni ukir dulunya masih terbatas pada bangunan-bangunan suci dan bangunan-bangunan keraton (puri) ukiran dipakai sebagai ornamen pada tiang penyangga maupun pada tembok-tembok bangunan yang diwujudkan dalam bentuk relief yang menceritakan kisah pewayangan maupun cerita rakyat (Soeparno, 1983).

Ukiran adalah cukilan berupa ornamen atau ragam hias hasil rangkaian yang indah, berelung-relung saling jalin-menjalin, berulang dan sambung-menyambung sehingga mewujudkan suatu hiasan (Soeparno,1983).  Berbagai macam bahan yang dapat diukir pada umumnya adalah kayu, logam, tanah liat, batu dan tulang. Yang paling langka ditemui adalah seni kerajinan yang menggunakan tulang sebagai bahan utama untuk diukir menjadi suatu produk kesenian. Kerajinan seni ukir yang terbuat dari tulang ini dapat ditemui di Desa Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Propinsi Bali. Masyarakat di daerah ini telah menekuni kerajinan tulang sudah lebih dari setengah abad yang lalu, dimana mereka menekuni jenis kerajinan ini seacra turun temurun sehingga kerajinan tulang berkembang dengan sangat bagus.

Jenis ukiran yang ditemukan dilapangan sangat beraneka ragam, hal ini dilakukan oleh pengrajin agar tetap mampu menjual hasil kerajinannya tanpa persaingan yang ketat. Masing-masing pengrajin memiliki gaya tersendiri untuk memasarkan produk mereka. Umumnya mereka membuat motif sesuai dengan pangsa pasar yang akan mereka raih, baik berdasarkan daerah asal konsumen maupun berdasarkan umur konsumen. Kerajinan tulang tersebut memiliki ukuran dan ukiran yang sangat bervariatif. Ada yang besar dan tidak terlalu rumit, besar dengan ukiran yang sangat rumit, kecil sederhana, dan kecil sangat rumit. Semua ini biasanya disesuaikan dengan keinginan dari masing- masing konsumen.

Tulang merupakan bentuk penyambung yang menyusun mayoritas rangka kebanyakan vertebrata yang terdiri dari komponen organik (sel dan matrik) dan inorganik ( EGC, 2002). Tulang, atau jaringan oseaso, merupakan bentuk kaku jaringan ikat yang membentuk sebagian besar kerangka vertabrata yang lebih tinggi. Jaringan ini terdiri atas sel-sel dan matrik intersel. Matrik mengandung unsur organik yaitu terutama serat-serat kolagen dan unsure anorganik yang merupakan dua pertiga berat tulang. Tulang memiliki beberapa sifat yang sangat unik yang tidak dimiliki oleh benda lainnya diantaranya :

1)   Tulang mempunyai system kanalikuli, yaitu saluran halus yang meluas dari lakuna ke lakuna lainnya dan meluas ke permukaan tulang, tempatnya bermuara ke dalam celah-celah jaringan. Cairan jaringan dalam celah-celah ini berhubungan langsung dengan cairan di dalam system kanalikuli dan dengan demikian memungkinkan pertukaran metabolit antara darah dan osteosit. Melaui mekanisme ini sel-sel tulang tetap hidup, walaupun dikelilingi substansi intersel yang telah mengapur.

2)   Tulang bersifat avaskular. Sistem kanalikuli tidak dapat berfungsi baik bila jaraknya dari suatu kapiler melebihi 0,5 mm. oleh karena itu tulang banyak mengandung kapiler yang terdapat di dalam saluran havers dan saluran volkmann.

3)   Tulang hanya dapat tumbuh melalui mekanisme aposisional. Penumbuhan intersial, seperti tulang rawan, tidak mungkin pada tulang karena adanya garam kapur (lime salt) dalam matriks yang tidak memungkinkan terjadinya pengembangan dari dalam.

4)   Arsitektur tulang tidak bersifat statis. Tulang dihancurkan setempat-setempat dan dibentuk kembali. Jadi harus selalu dipertimbangkan adanya proses rekontruksi yang berlanjut terus (Staf Ahli Histologi FKUI, 1995).

Tulang yang biasanya digunakan sebagai barang kerajinan adalah tulang sapi, tulang kerbau dan tulang ikan. Tulang sapi dan tulang kerbau dipilih sebagai bahan utama bagi pengrajin karena memiliki ukuran yang besar, sedangkan untuk tulang ikan pengrajin memilih jenis ikan tertentu saja yang mana memiliki ukuran tulang besar dan kuat. Sistem perwujudan tulang yang ditemui dilapangan adalah sebagai berikut: 1) tulang–tulang yang dihasilkan dibalai potong hewan dibersihkan dari sisa daging yang melekat dengan cara di rebus sampai semua dagingnya mengelupas; 2) tulang-tulang yang telah direbus dijemur sampai benar-benar kering kurang-lebih 2-3 hari; 3) tulang-tulang yang sudah kering akan menunjukan warna putih kekuning-kuningan dan siap diproses menjadi barang kerajinan.

Dalam dunia pemasaran terdapat dua hal yang mampu diperdangangkan yaitu produk dan jasa. Produk merupakan hasil kegiatan berupa barang yang dibuat oleh manusia untuk dapat dijual dan menghasilkan pendapatan, sedangkan jasa merupakan suatu layanan yang diberikan oleh penjual kepada pembeli untuk mendapatkan suatu penghasilan/pendapatan. Dalam penjualan sebuah produk/barang, penjual harus cermat dalam beberapa hal, diantaranya: 1) jenis dan kualitas produk/barang yang diminati dan mampu dibeli oleh konsumen; 2) harga yang mampu dijangkau oleh konsumen untuk membeli sebuah produk/barang; 3) tempat penjualan produk/barang yang strategis agar produk/barang dikenal oleh konsumen dan laku terjual ; 4) strategi promosi atau pemasaran yang baik agar sebuah produk dikenal oleh konsumen secara luas dan jelas (A. Yoeti,1996).

Untuk sebuah produk seni/ barang kerajinan di dalam sistem pemasaranya, hal utama yang sangat perlu diperhatikan adalah kualitas produk dari segi bahan kerajinan itu sendiri dan gaya seni ornamen yang merupakan motif dari produk tersebut. Di bawah ini dapat kita lihat contoh mekanisme pasar untuk suatu produk seni ukir.

ANSEL ADAMS Sang Maestro Fotografi Hitam Putih

ANSEL ADAMS Sang Maestro Fotografi Hitam Putih

Ansel Adams (20 Februari 1902-22 April 1984).

Penulis : I Made Saryana

Ansel Adams

Ansel Adams

Sebuah lukisan yang terjual dengan harga ratusan juta bahkan milyaran rupiah itu sudah menjadi sesuatu yang biasa, akan tetapi ketika harga sebuah foto ada yang terjual mencapai ratusan juta, hal itu adalah sesuatu yang luar biasa. Salah satu fotografer  Amerika terkemuka yaitu Ansel Adams  rata-rata karyanya terjual 300 jt (Tetone and Snake River, Grand Teton National Park 1942). Harga termurah 80 jt (Duves, Oceano, CA 1963). Bahkan salah satu karyanya ada yang terjual 150.000 US atau sekarang setara Rp. 1.350.000.000;

Ansel Adams adalah seorang fotografer yang paling harum namanya di dunia fotografi dan karya-karyanya sangat diburu para kolektor. Karya seni foto yang paling banyak dibuat dan paling berkesan dipandang oleh setiap mata pengamat fotografi adalah karya-karya foto pemandangannya, bercitarasa tinggi, hingga dijuluki karya fotografi pemandangan yang termahal di dunia. Siapapun melihat karya Ansel Adams pasti sepakat dengan harga mahal, sangat luar biasa, indah, detail termasuk kontras dan pencahayaan tidak ada cacatnya ini adalah pencapaian tertinggi dalam sejarah perkembangan seni fotografi dunia.

Ansel Adams lahir di San Fransisco, ayahnya Hitchcock Adams adalah seorang pengusaha. Sedangkan ibunya Olive Bray seorang ibu rumah tangga. Adams kecil sudah menampakan kecerdasannya dan tergolong anak yang hiperaktif dan memiliki gangguan kesulitan membaca, sehingga pendidikannya hanya setara SLTP. Satu-satunya kegembiraan Adams kecil adalah menikmati alam, dekat jembatan The Golden Gate. Hampir setiap hari ia terlihat bermain-main di sana  seusai les piano yang dijalaninya. Sejak belasan tahun Adams sudah senang memotret dan dalam usia 17 tahun dia telah bergabung dengan sebuah klub pencinta alam, sierre club.

Tahun 1927 sangat menentukan karier Adams, karena ia menghasilkan serial foto ”Monolith, the Face of Half Dome” di Taman Nasional Yosemit. Tahun 1930 berjumpa fotografer Paul Strand juga Alfred Stieglietz  sejak itu Ansel Adams bertekad menciptakan karya foto tanpa manipulasi (straight photography) tidak ada dodging atau burning. Kemudian 1932 Adams bersama Edward Weston mendirikan grup f/64, kelompok fotografer yang memotret hanya dengan bukaan diafragma 64 untuk mendapatkan ketajaman gambar yang maksimal.

Popularitas Ansel Adams sebagai Fotografer terkemuka dari Amerika Serikat ini, didapat dari usahanya yang sangat keras di bidang fotografi hitam putih. Karya-karyanya dibuat dengan penuh pemikiran serta pengalamannya di laboratorium bertahun-tahun, kesabaran dan keuletan di lapangan (bekerja 18 jam sehari) dan tidak pernah libur, sehingga menghasilkan karya yang spektakuler dan memiliki citarasa yang tinggi. la sangat intens dalam mempelajari sifat-sifat film dan kertas hitam putih. Pendalamannya yang merupakan gabungan antara teori dasar fotografi dan pengalaman empiris itu akhirnya membuahkan teori sistem zone (zone system) yang banyak dianut para fotografer hitam putih di seluruh dunia. Ansel Adams memberikan seluruh penemuannya kepada kita semua tanpa sedikitpun dirahasiakannya. Dengan sistem zona ini Ansel Adams tidak pernah butuh koreksi pencetakan, mencetak karya Adams adalah mencetak durasi persis sama pada semua fotonya dan negatif film Adams adalah hasil final.

Sistem Zona adalah sebuah teori fotografi hitam putih, di mana dalam sistem ini tiap nada di alam punya korelasi dengan sebuah kepekatan dalam foto hitam putih. Maka setiap fotonya dapat dilihat warna putih dan hitam tampil menawan sejajar dengan aneka gradasi abu-abu pada lembar yang sama. Sistem zona dapat juga diartikan sebagai pengukuran pencahayaan suatu obyek foto hitam putih dalam beberapa zone atau nilai terang-gelap dalam ukuran “stop”, di mana satu stop sama dengan kelipatan dua dari ukuran sebelum dan sesudahnya. Perbedaan stop dapat dilakukan dengan diafragma maupun kecepatan rana (dalam detik).

Skala nada (tones) atau gradasi foto dalam sistem zona ini  dibagi menjadi 10 tingkatan zone, yaitu dari zone 0-zone 9. Yang disebut zone nol (0) adalah hitam total maksimal yang bisa dicapai kertas foto, sedangkan zone 9 adalah putih total pada kertas foto yang belum pernah tersinari sama sekali. Zone 0-3 biasa disebut zone bayangan, zone 4-6 adalah zone menengah yang biasanya menjadi “terjemahan” warna merah, biru atau hijau, sedangkan zone 7-9 adalah zone highlight atau zone terang untuk pantulan warna atau tekstur yang sangat tipis. Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah pembagian masing-masing zone :

Dark Zone

Zone 0        : Hitam pekat tanpa tekstur.

Zone I         : Hitam pekat yang terdapat pada foto yang kita miliki.

Zone II       : Hitam dengan tekstur tipis mulai terlihat.

Texture Zone

Zone III     : Zone hitam dengan tekstur yang tersajikan dengan baik, misalnya rambut yang hitam, kain warna gelap, dan lain-­lain.

Zone IV     :   Abu-abu gelap dengan tekstur yang baik sekali, misalnya warna kulit orang Ambon dan Papua.

Zone V    :  Abu-abu netral (grey card 18%) merupakan patokan lightmeter kamera  dalam pengukuran cahaya (guide exposure).

Zone VI     : Abu-abu dengan tekstur penuh.

Zone VII  : Abu-abu muda dengan tekstur penuh dan merupakan nada terakhir dari abu-abu sebelum masuk dalam nada putih. Misalnya, highlight/bagian yang paling terang dari kain warna muda.

Light Zone

Zone VIII   : Putih dengan tekstur seperti kertas putih, cat putih atau salju.

Zone IX     :  Putih, tanpa tekstur.

Zone X       : Putih bersih dan merupakan putih yang terakhir dari skala nada.

Urutan dari setiap tingkat nada ke tingkat nada yang lain, dibedakan dengan perbedaan pencahayaan 1 stop, baik perbedaan dengan f-stop (diafragma) maupun dengan kecepatan rana (shutter speed) di kamera.

Selain menemukan  sistem zona Ansel Adams juga menghasilkan banyak buku  yang sangat terkenal dan dapat membantu masyarakat dalam mengapresiasi masalah fotografi. Adapun buku-buku tersebut antara lain: The John Muir Trail (1938), Michael and Anne in Yosemite Valley (1941), Born Free and Equal (1944), Illustrated Guide to Yo­semite Valley (1946), Camera and Lens (1948), The Negative .(1943), Yosemite and the High Sierra (1948), The. Print (1950), My Camera in Yosemite Valley (1950), My Camera in the Na­tional Parks (1950), The Land of Little Rain (1950), Natural Light Photography (1952), Death Val­ley (1954), Mission San Xavier dal Bac (1954), The Pageant of History in Northern California (1954), dan Artificial Light Pho­tography (1956). The Islands of Hawaii, (1958), Yosemite Valley (1959), Death Valley and the Creek Called Furnace (1962), These We Inherit: The Parklands of America (1962), Polaroid Land Photography Manual (1963), An Introduction to Ha­waii (1964), Fiat Lux: The Uni­versity of California (1967), The Tetons and the Yellowstone (1970), Ansel Adams (1972), Si­ngular Images (1974), Ansel Adams: Images 1923-1974, Photographs of the Southwest (1976), The Portfo­lios of Ansel Adams (1977), Po­laroid Land Photography (1978), Yosemite and the Range of Light (1979), The Camera (1980), The Negative (1981), den The Print (1983). Sedangkan buku otobiogra­finya tidak selesai dikerjakan karena ia keburu meninggal pa­da tahun 1984. Namun, buku­nya diselesaikan Mary Street Alinder dan, terbit tahun 1985.

Keberhasilan Adams dalam dunia fotografi yang tercermin melalui karya-karyanya juga tidak luput dari kritikan. Ada beberapa orang yang mengkritik karyanya dengan mengatakan bahwa karya Adams bagus karena objek yang difotonya memang indah. Namun sesungguhnya tidaklah demikian sebab kenyataannya banyak fotografer lain yang memotret objek yang sama dengan pencahayaan dan sudut pemotretan yang dirangcang semirip mungkin dengan karya Adams, tetapi hasilnya tidak sebagus karya-karya Adams. Kritikan lain adalah adalah dari Henri Cartier Bresson seorang fotografer kondang yang mengatakan ”Betapa miskinnya objek foto yang dipilih Adams, padahal dunia ini sangat beraneka ragam”, tapi yang dipotretnya hanyalah karang dan pohon.

Implementasi Tri Hita Karana Di Desa Tenganan Pegringsingan Sebagai Sumber Penciptaan Karya Fotografi Seni

Implementasi Tri Hita Karana Di Desa Tenganan Pegringsingan Sebagai Sumber Penciptaan Karya Fotografi Seni

Oleh: I Komang Arba Wirawan

Tenganan

Tenganan

Kebudayaan Bali terkenal karena keunikan dan kekhasan yang dijiwai oleh agama Hindu dan tidak bisa dilepaskan dari kesenian, adat dan budayanya yang menyatu dengan kegiatan keseharian orang Bali. Desa Tenganan Pegringsingan desa dengan adat istiadat yang khas memegang teguh nilai-nilai tradisi dan merupakan warisan budaya asli Bali yang disebut Bali Age yang menyatu dengan kepercayaan nenek-moyang serta agama Hindu yang mereka anut. Sebagai desa yang memiliki ciri kebudayaan yang khas, Tenganan Pegringsingan dikenal pula secara geografis diantara dua pegunungan dengan system pola menetap yang berbeda dengan desa-desa di Bali pada umumnya.

Wilayah desa Tenganan Pegringsingan merupakan tempat yang strategis, memiliki pemandangan alam yang indah, terletak di antara perbukitan, yaitu Bukit Kangin di sebelah timur dan Bukit Kauh di sebelah Barat. Desa Tenganan Pegringsingan keseluruhan penduduknya memeluk agama hindu

Masyarakat Tenganan Pegringsingan mengajarkan masyarakatnya dan memegang teguh konsep Tri Hita Karana (konsep ajaran dalam agama hindu), dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tri berarti tiga dan hita karana berarti penyebab kebahagiaan untuk mencapai keseimbangan dan keharmonisan. Tri  hita karana terdiri dari: Perahyangan yaitu hubungan yang seimbang antara manusia dengan Tuhan yang Maha Esa, Pawongan artinya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia lainnya, dan Palemahan artinya hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya sebagai bahan eksplorasi berkarya fotografi seni.

Fotografi seni telah menjadi wahana untuk berolah kreatif bagi para fotografer yang ingin menorehkan gaya jati-diri yang menjadi diri pribadinya ingin menampilkan  ‘gading’- nya dalam dunia fotografi. Ekspresi diri yang menciri dalam sebuah foto menjadi tujuan pencarian identitas pribadi seseorang fotografer masa kini. Hal ini nampaknya sudah merupakan tutunan Zamannya (zeitgeist) yang menafikan keseragaman bagi pencapai keunikan estetis yang mandiri. Di samping itu pula penciptaan karya fotografi seni yang memiliki ‘subject matter’ dengan nilai ontentitas tinggi disamping keindahan  yang dikandung merupakan dambaan bagi setiap seniman fotografi. Ekspresi diri melalui medium fotografi seni juga bisa dicapai dengan berbagai cara, diantaranya dengan memilih objek-objek foto alam, kehidupan sosial dan upacara-upacara di desa Tenganan Pegringsingan untuk di tampilkan menjadi karya fotografi seni; pengunaan golden komposisi  baik dengan dalam pemotretan maupun dengan teknik kamar terang (komputer) merupakan satu cara; dan bisa juga dengan cara tertentu dalam upaya menampilkan karya atau ‘way of representation’.

Tri hita karana secara visual merupakan sebuah konsep yang sangat menumental dan bersifat adiluhung. Pancaran nilai estetik yang sangat tinggi memberikan daya tarik yang sangat kuat bagi para seniman Bali untuk mengangkatnya sebagai sumber inspirasi dalam proses penciptaannya. Pencipta sangat tertarik mengangkat tri hita karana di desa Tenganan Pegringsingan sebagai sumber ide penciptaan karya seni karena upacara-upacaranya sangat unik dan ertistik dengan penuh variasi tenun pegringsingan yang ditemukan dalam upacara-upacara tersebut.

Originalitas dalam penciptaan karya  ini adalah tidak meniru sebuah karya yang telah ada, tetapi menciptakan sebuah karya fotografi seni dengan sumber ide dari aktifitas upacara masyarakat desa Tenganan Pegringsingan yang berlandaskan tri hita karana.

Eksplorasi yang intens dan proses kamar terang fotografer dapat menghasilkan karya fotografi seni dengan judul: trance, waiting, perbaiki kamenku, fight, gadis ayu, 3 cild, Ibu dan Anak, Ugly, Go to Ceremony dan sleepy yang mendapat apresiasi yang menarik dari pengamat seni, setelah melakukan pameran di gedung pameran FSRD ISI Denpasar dan Musium Neka Ubud Bali.

Peran Serta Wanita Dalam Mengembangkan Kerajinan Gerabah Di Bali

Peran Serta Wanita Dalam Mengembangkan Kerajinan Gerabah Di Bali

Oleh I Wayan Mudra

Praktek keramik (600 x 399)

Peran Wanita

Kehidupan para perajin di Bali selama ini sering dipandang sebagai kelompok masyarakat berpengasilan rendah. Nampaknya sebutan tersebut selalu melekat pada diri seorang yang menamakan diri perajin apapun bidangnya. Mungkin citra ini tidak sepenuhnya benar kalau kita jeli melihat fakta dilapangan. Sekarang ini tidak sedikit seorang yang disebut perajin menunjukkan kehidupan yang cukup baik dilihat dari kepemilikan materi dan gaya hidup mereka. Suatu fenomena kontradiktif tetapi nyata. Seanalog dengan hal tersebut citra wanita Bali dimata orang luar Bali terutama mereka yang belum pernah ke Bali sering sangat negatif. Dalam beberapa kali perjalanan penulis dari Denpasar ke Bandung penulis pernah mendapat pernyataan yang menyebutkan bahwa orang Bali yang mencari nafkah untuk keluarga itu adalah istri atau kaum wanitanya sedangkan kaum laki atau suami pekerjaannya hanya adu ayam. Citra ini nampaknya sudah menjadi pengetahuan umum bagi mereka yang belum pernah ke Bali. Karena secara kuantitas pertanyaan atau pernyataan seperti ini sangat sering penulis dapatkan selama di luar Bali. Pernyataan-pernyataan negatif tentang orang Bali ini sering menjadi renungan penulis sebagai orang Bali, “Apakah benar semua ini?”

Kalau kita melihat keuletan kaum wanita Bali dalam pekerjaan dan agama mungkin sulit dicari tandingannya. Hal ini bukan berarti peran wanita Bali dalam menjadi paling utama dalam kehidupan keluarga sehari-hari, karena masih ada kaum suami yang paling bertanggung jawab terhadap jalannya kehidupan suatu keluarga. Kehidupan seorang suami pada masyarakat Bali dengan sistem patrilinialnya ditempatkan pada strata yang lebih tinggi dalam kehidupan keluarga. Hal ini terungkap pada “weda smerti” seperti berikut ini “…walaupun seorang suami kurang kebajikan, mencari kesenangan di luar, tidak mempunyai sifat-sifat baik namun seorang suami tetap harus dihormati sebagai dewa oleh istri yang setia …..” (Arsana, 1990: 53).

Dari kutipan diatas bukan berarti sang suami dengan seenaknya memperlakukan istrinya. Kedudukan seorang ayah dalam rumah tangga adalah selaku pelindung bagi kelangsungan kehidupan keluarganya. Dengan istilah lain disebutkan sebagai akasa. Secara simbolik akasa yang sejajar artinya dengan angkasa dikonsepsikan pada posisi di atas sedangkan ibu (wanita) dikonsepsikan sebagai pertiwi (tanah) berada pada posisi sebaliknya. (Arsana, 1990: 51).

Dari gambaran di atas menunjukkan bahwa kaum suami pada keluarga Bali sangat bertanggung jawab terhadap kebutuhan jasmani dan rohani sesuai dengan konsep hidup orang Bali yaitu Tri Hita Karana. Walaupun tanggung jawab keluarga ada pada pundak suami wanita Bali bukan berarti menunggu di rumah hanya mengurus anak dan suami, tetapi lebih dari pada itu wanita Bali ikut memikirkan kesejahtraan keluarga. Hal ini dilakukan dengan cara bekerja baik pada sektor formal maupun informal.

Melihat peran wanita Bali dalam menunjang pembangunan dalam berbagai sektor non formal sangat komplek maka kami mengkaji peran serta wanita Bali dalam kasus pengembangan kerajinan gerabah. Survey pendahuluan menunjukkan peran serta wanita dalam mengembangkan kerajinan gerabah tersebut cukup dominan. Kelompok perajin telah beberapa kali mendapat binaan dari pemerintah daerah dan BPPT Seni Keramik dan Porselin Denpasar. Hasilnya secara fisik terlihat adanya perkembangan dalam desain maupun jumlah produk, ruang kerja tertata lebih baik dengan membentuk kelompok perajin gerabah.

Peran Serta Wanita Dalam Mengembangkan Kerajinan Gerabah Di Bali selengkapnya

Bentuk Gamelan Gong Gede

Bentuk Gamelan Gong Gede

Oleh: Pande Mustika

Gamelan Gong GedeBentuk gamelan Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur tak kalah pentingnya dengan unsur-unsur seperti; bentuk ensambelisasi, musikalitas, dan tata penyajian yang dituangkan secara ekspresif di atas pentas. Gamelan Gong Gede tersebut merupakan seni karawitan, dimana perpaduan unsur-unsur budaya lokal yang sudah terakumulasi dari masa ke masa. Unsur budaya Bali tercermin pada penggunaan instrumen dari perangkat gamelan Bali dan busana yang dipergunakan  oleh para penabuh (jero gamel). Budaya lokal tampak pada penggunaan tradisi-tradisi Bali seperti tabuh-tabuh yang memakai laras pelog, sesaji, dan para penabuhnya didominasi dengan memakai kostum penabuh seperti ; ikat kepala (udeng) dipakai warna hitam, bajunya dipakai warna putih disisinya memakai safari hitam berisi simbol, memakai saput orange, dan ditambah dengan membawa keris atau seselet. Istilah jero gamel tidak jauh berbeda dengan juru gamel. Kalau dilihat dari fungsinya semuanya                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      ini berarti tukang gamel, yang sudah melekat sebagai bagian dari identitas diri seseorang.

Instrumen

Bentuk instrumen gamelan Gong Gede ada dua jenis yakni : yang    1) berbentuk bilah dan 2) berbentuk (moncol). Menurut Brata, instrumen yang berbentuk bilah ada dua macam : bentuk bilah bulig, dan bilah mausuk. Bentuk bilah bulig bisa disebut dengan : metundun klipes, metundun sambuk, setengah penyalin.

Untuk instrumen yang berbilah seperti bilah metundun klipes, metundun sambuk, setengah penyalin dan bulig terdapat dalam instrumen gangsa jongkok penunggal, jongkok pengangkem ageng, dan jongkok pengangkep alit (curing). Instrumen-instrumen ini bilahnya dipaku atau sering disebut dengan istilah gangsa mepacek. Sedangkan bentuk bilah yang diistilahkan merai, meusuk, dan meakte terdapat pada instrumen pengacah, jublag, dan jegogan. Instrumen-instrumen ini bilahnya digantung yaitu memakai tali seperti jangat.

Instrumen yang bermoncol dapat dikelompokan menjadi dua yakni: 1) moncol tegeh (tinggi) dan 2) moncol endep (pendek). Contoh instrumen yang berpancon tinggi seperti; riyong ponggang, riyong, trompong barangan, dan tropong ageng (gede). Sedangkan instrumen yang berpencon pendek (endep) antara lain kempli, bende, kempul, dan gong.

Reportoar

Bentuk reportoar gending Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur, berbentuk lelambatan klasik yang merupakan rangkaian dari bagian-bagian gending yang masing-masing mempunyai bentuk urutan sajian. Adapun urutan dari bagian-bagian bentuk reportoar gending dari masing-masing bentuk reportoar adalah sebagai berikut :

  1. Bentuk reportoar gending gilak (gegilakan) terdiri dari bagian gending-gending kawitan dan pengawak.
  2. Bentuk reportoar gending tabuh pisan terdiri dari bagian gending kawitan, pengawak, ngisep ngiwang, pengisep, dan pengecet.
  3. Bentuk reportoar gending tabuh telu, terdiri dari bagian gending kawitan dan pengawak.
  4. Bentuk reportoar gending tabuh pat, tabuh nem, dan tabuh kutus mempunyai bagian gending yang sama yaitu kawitan (pengawit), pengawak, pengisep (pengaras), dan pengecet. Pada bagian gending pengecet terdapat sub-sub bagian gending yang urutan sajiannya adalah kawitan, pemalpal, ngembat trompong, pemalpal tabuh telu, pengawak tabuh telu. Alternatif yang lain dari susunan sajian sub bagian gending dalam pengecet ini adalah kawitan, pemalpal, ngembat trompong, dan gilak atau gegilakan.

Bentuk reportoar gending Gong Gede dapat ditentukan oleh jumlah pukulan kempul dalam satu gong, misalnya tabuh pat terdapat empat pukulan kempul dalam satu gongan pada bagian gending pengawak dan pengisap. Demikian juga pada bentuk-bentuk gending tabuh pisan (besik), tabuh telu, tabuh nem dan tabuh kutus.

Keberadaan Gamelan Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur (2)

Keberadaan Gamelan Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur (2)

Oleh: Pande Mustika

Gamelan Gong Gede ISI DenpasarMenyimak kata keberadaan semestinya kita mengingat kembali sejarah-sejarah yang pernah dialami di Pura Ulun Danu Batur Desa Batur. Sejarah adalah suatu proses penciptaan dan pemuasan serta penciptaan ulang dari kebutuhan-kebutuhan manusia yang terus-menerus. (Marx,  1986 : 27)

Timbulnya gamelan Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur, belum dapat diketahui secara pasti. Hal mana disebabkan oleh kurangnya data-data yang memuat tentang gamelan tersebut, baik yang berupa lontar, prasasti maupun tulisan-tulisan lainnya. Sebagai corak kebudayaan yang sifatnya oral tradisi, mereka berikan hanya bersifat perkiraan informasi dari mulut ke mulut orang-orang tertua terdahulu. Mereka mengatakan bahwa gamelan itu sudah di embannya sejak dahulu atau mereka mengatakan gamelan warisan dari leluhurnya (tetamian).

Menurut informasi Jero Gede Duuran dan Jero Gede Alitan, bahwa gamelan Gong Gede tersebut diperkirakan ada pada tahun 1204 masehi. Di samping itu juga informasi mengatakan bahwa, kondisi gamelan yang ada dulunya tidaklah selengkap seperti apa yang dapat kita lihat sekarang. Gamelan ini diperkirakan berkembang sesudah abad ke XII (Jero Gede Duuran, Jero Gede Alitan wawancara 19 April 2006).

Informasi dari Jero Nyoman Tekek, pada tahun 1835 Raja Majapahit memberikan dua pasang instrumen gong, satu buah kempul, dan satu buah bende kepada pengempon pura yang ada di Desa Sinarata (Pura Batur). Setibanya di Bali, gong yang suara dan ukurannya lebih besar disimpan di Pura Ulun Danu Batur, dan gong yang ukuran serta suaranya lebih kecil diambil oleh Raja Bangli. Lama-kelamaan gong tersebut disumbangkan kepada Desa Sulahan. Sedangkan kempul dan bende tetap disimpan di pura Batur di bawah kaki gunung Batur. (Jero Tekek, wawancara 18 Nopember 2004)

Instrumen yang ada pada waktu berada di pura Batur Desa Batur di kaki gunung Batur adalah instrumen Trompong Ageng (Gede), Trompong Alit, empat buah gangsa Jongkok Penunggal, empat buah gangsa Jongkok Pengangkep Ageng, empat buah gangsa Jongkok Pengangkep Alit (Curing), empat buah Penyacah, empat buah Jublag, satu buah Riyong Ponggang, satu buah kempul, satu pasang gong, dan beberapa pasang Cengceng Kopyak. Instrumen-instrumen tersebut dibuat oleh pande gamelan Desa Sawan Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng, pelawahnya dibuat/diukir oleh undagi dari Desa Banyuning Kabupaten Buleleng. Sedangkan proses pembuatannya dilaksanakan di Pura Batur (Jero Tekek, wawancara 18 Nopember 2004).

Melihat dan memperhatikan sering terjadinya aktivitas letusan gunung Batur sampai tanggal 21 April 1926, atas perintah dari pemerintahan Bangli pada tanggal 3 Agustus 1926 masyarakat Batur dipindahkan ke desa Kalanganyar. Sedangkan gamelan Gong Gede dipindahkan ke Pura Desa Bayung Gede. Adapun proses perpindahannya dilaksanakan oleh narapidana/bogolan yang ada di kota Bangli.

Dari jumlah instrumen yang disebutkan di atas, ada beberapa tambahan instrumen seperti ; satu tungguh instrumen Riyong yang bermoncol 13 buah, empat buah gangsa Jongkok Penunggal, dan sepasang instrumen Jegogan. Instrumen-instrumen tersebut dibuat pada tahun 1930, dimana bilah dan panconnya dibuat di Pura Batur oleh pande gamelan dari desa Tiyingan Klungkung. Sedangkan pelawahnya dibuat oleh Jero Nyarikan, Nang Sweca, Nang Sedana, dan Nang Kirim atas dasar ngayah yang kesemunya itu sudah tiada (almarhum).

Gamelan Gong Gede yang ada di Pura Ulun Danu Batur, dibuatkan tempat penyimpanan secara permanen seperti apa yang kita dapat saksikan sampai sekarang. Barungan gamelan Gong Gede tersebut sangat disakralkan atau dikramatkan oleh masyarakatnya dan juga disebut dengan istilah duwe lingsir. Maka pada tahun 1998 dibuatkan suatu duplikat beberapa instrumen yang namanya gamelan Bebonangan, di pande gamelan Sidha Karya Banjar Babakan Desa Blahbatuh Gianyar (Wayan Pager) sehingga di Pura Ulun Danu Batur ada istilah tedun Bebonangan yang artinya gamelan Bebonangan. Tedun Trompong artinya gamelan Gong Gede yang komplit.

Loading...