Keberadaan Gamelan Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur (2)

Keberadaan Gamelan Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur (2)

Oleh: Pande Mustika

Gamelan Gong Gede ISI DenpasarMenyimak kata keberadaan semestinya kita mengingat kembali sejarah-sejarah yang pernah dialami di Pura Ulun Danu Batur Desa Batur. Sejarah adalah suatu proses penciptaan dan pemuasan serta penciptaan ulang dari kebutuhan-kebutuhan manusia yang terus-menerus. (Marx,  1986 : 27)

Timbulnya gamelan Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur, belum dapat diketahui secara pasti. Hal mana disebabkan oleh kurangnya data-data yang memuat tentang gamelan tersebut, baik yang berupa lontar, prasasti maupun tulisan-tulisan lainnya. Sebagai corak kebudayaan yang sifatnya oral tradisi, mereka berikan hanya bersifat perkiraan informasi dari mulut ke mulut orang-orang tertua terdahulu. Mereka mengatakan bahwa gamelan itu sudah di embannya sejak dahulu atau mereka mengatakan gamelan warisan dari leluhurnya (tetamian).

Menurut informasi Jero Gede Duuran dan Jero Gede Alitan, bahwa gamelan Gong Gede tersebut diperkirakan ada pada tahun 1204 masehi. Di samping itu juga informasi mengatakan bahwa, kondisi gamelan yang ada dulunya tidaklah selengkap seperti apa yang dapat kita lihat sekarang. Gamelan ini diperkirakan berkembang sesudah abad ke XII (Jero Gede Duuran, Jero Gede Alitan wawancara 19 April 2006).

Informasi dari Jero Nyoman Tekek, pada tahun 1835 Raja Majapahit memberikan dua pasang instrumen gong, satu buah kempul, dan satu buah bende kepada pengempon pura yang ada di Desa Sinarata (Pura Batur). Setibanya di Bali, gong yang suara dan ukurannya lebih besar disimpan di Pura Ulun Danu Batur, dan gong yang ukuran serta suaranya lebih kecil diambil oleh Raja Bangli. Lama-kelamaan gong tersebut disumbangkan kepada Desa Sulahan. Sedangkan kempul dan bende tetap disimpan di pura Batur di bawah kaki gunung Batur. (Jero Tekek, wawancara 18 Nopember 2004)

Instrumen yang ada pada waktu berada di pura Batur Desa Batur di kaki gunung Batur adalah instrumen Trompong Ageng (Gede), Trompong Alit, empat buah gangsa Jongkok Penunggal, empat buah gangsa Jongkok Pengangkep Ageng, empat buah gangsa Jongkok Pengangkep Alit (Curing), empat buah Penyacah, empat buah Jublag, satu buah Riyong Ponggang, satu buah kempul, satu pasang gong, dan beberapa pasang Cengceng Kopyak. Instrumen-instrumen tersebut dibuat oleh pande gamelan Desa Sawan Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng, pelawahnya dibuat/diukir oleh undagi dari Desa Banyuning Kabupaten Buleleng. Sedangkan proses pembuatannya dilaksanakan di Pura Batur (Jero Tekek, wawancara 18 Nopember 2004).

Melihat dan memperhatikan sering terjadinya aktivitas letusan gunung Batur sampai tanggal 21 April 1926, atas perintah dari pemerintahan Bangli pada tanggal 3 Agustus 1926 masyarakat Batur dipindahkan ke desa Kalanganyar. Sedangkan gamelan Gong Gede dipindahkan ke Pura Desa Bayung Gede. Adapun proses perpindahannya dilaksanakan oleh narapidana/bogolan yang ada di kota Bangli.

Dari jumlah instrumen yang disebutkan di atas, ada beberapa tambahan instrumen seperti ; satu tungguh instrumen Riyong yang bermoncol 13 buah, empat buah gangsa Jongkok Penunggal, dan sepasang instrumen Jegogan. Instrumen-instrumen tersebut dibuat pada tahun 1930, dimana bilah dan panconnya dibuat di Pura Batur oleh pande gamelan dari desa Tiyingan Klungkung. Sedangkan pelawahnya dibuat oleh Jero Nyarikan, Nang Sweca, Nang Sedana, dan Nang Kirim atas dasar ngayah yang kesemunya itu sudah tiada (almarhum).

Gamelan Gong Gede yang ada di Pura Ulun Danu Batur, dibuatkan tempat penyimpanan secara permanen seperti apa yang kita dapat saksikan sampai sekarang. Barungan gamelan Gong Gede tersebut sangat disakralkan atau dikramatkan oleh masyarakatnya dan juga disebut dengan istilah duwe lingsir. Maka pada tahun 1998 dibuatkan suatu duplikat beberapa instrumen yang namanya gamelan Bebonangan, di pande gamelan Sidha Karya Banjar Babakan Desa Blahbatuh Gianyar (Wayan Pager) sehingga di Pura Ulun Danu Batur ada istilah tedun Bebonangan yang artinya gamelan Bebonangan. Tedun Trompong artinya gamelan Gong Gede yang komplit.

Gamelan Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur (1)

Oleh Pande Mustika

Desa Batur yang terletak di penghujung utara perbatasan wilayah Kabupaten Bangli dengan Kabupaten Buleleng, terdapat tiga objek wisata yang termasyur yaitu : Gunung Batur, Danau Batur, dan Pura Ulun Danu Batur. Panorama alamnya yang indah serta didukung keyakinan  masyarakatnya akan adanya kekuatan diluar kemampuan manusia yang dapat memberikan sesuatu, selalu penuh dengan upacara ritual dan sesaji. Realita kehidupan semacam ini dijadikan sebagai prilaku yang tulus dari setiap warga masyarakat Desa (Desa Pakraman Batur).

Desa Batur jarak tempuh dari kota Denpasar kurang lebih 65 km melalui jalan raya yang menghubungkan kota Bangli dengan kota Singaraja. Selain itu dapat pula dicari melalui jalan jurusan Tampaksiring-Kintamani, dan bisa juga melalui jalur Desa Kedewatan, Payangan, dan Desa Kerta. Jarak tempuh dari kota Bangli ke arah utara kurang lebih 25 km. Lokasi ini berada pada ketinggian lebih kurang 900 meter di atas  permukaan laut, sehingga udara sangat dingin terutama pada waktu malam hari. (Dinas Kebudayaan Bali, 1988 : 1).

Desa Pakraman Batur yang mayoritas penduduknya beragama Hindu selaku pengemong pura, masih tetap menjalankan adat-istiadat leluhurnya yang terpatri dalam Raja Purana Pura Ulun Danu Batur, sehingga segala kegiatan masyarakatnya dilandasi oleh peraturan-peraturan adat atau awig-awig yang mengikat. Peraturan yang berlaku merupakan suatu kewajiban yang harus dijalankan dengan berbagai konsekwensinya  tanpa didorong unsur paksaan. Jadi setiap warga bertindak selaras dengan kesadaran nuraninya, sehingga tugas apa yang dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana.

Di samping Desa Batur memiliki tiga objek wisata, Desa Batur juga memiliki barungan gamelan Gong Gede yang sakral dan unik.  Gamelan Gong Gede adalah ; sebuah orkestra atau kesenian tradisional Bali yang didominasi oleh alat-alat perkusi dalam bentuk instrumen pukul, mempunyai teknik pukulan kekenyongan, memakai laras pelog lima nada/pelog panca nada,  sebagian besar alat perkusinya berupa bilah dan pencon, bentuk tabuhnya lelambatan klasik pegongan, diikat oleh uger-uger yang kuat, tempo lagunya lambat, instrumennya banyak dan besar-besar, jumlah penabuhnya banyak, mempunyai sifat agung, hidmat serta mempunyai warna suara yang beraneka ragam.

Pura Ulun Danu Batur adalah tempat pemujaan umat Hindu untuk mempersembahkan sujud baktinya kepada Sanghyang Widhi Wasa, yang merupakan perwujudan interaksi hakiki antara manusia dengan penciptanya, manusia dengan manusia, dan manusia dengan dunia tempatnya berada. Ketiganya ini saling kait-mengkait yang tertuang dalam ajaran Tri Hita Karana. Secara singkat dapat dirumuskan sebagai tiga hal yang menyebabkan manusia mencapai kesejahteraan, kebahagiaan, keselamatan, dan kedamaian. Terpadunya hal tersebut dapat melahirkan nilai-nilai keindahan yang mendalam.

Bertahannya nilai-nilai agama Hindu yang dijalankan secara rutinitas di Desa Pakraman Batur, baik apa yang telah ditampilkan oleh kelompok jero gamel maupun segala kegiatan upacara keagamaannya, merupakan kekuatan untuk menjaga kestabilan, keseimbangan, pelestarian, dan keselamatan budaya dari pengaruh-pengaruh luar yang sifatnya negatif. Desa Pakraman Batur terdiri dari tiga  desa administratif yaitu ; Desa Batur Selatan, Desa Batur Tengah, dan Desa Batur Utara.

Bentuk Tari Srimpi Gaya Yogyakarta

Oleh: Dyah Kustiyanti Dosen Jurusan Tari Jawa Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar

Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa, materi tari yang diajarkan salah satunya adalah Tari Srimpi Pandelori. Pengajar tari yang utama untuk tari Srimpi ini adalah Ibu Siti Sutiyah, SSn, pimpinan Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa. Kursus dilakukan 1 minggu 3 kali, Hal ini dilakukan untuk tetap meningkatkan ketrampilan dalam mendalami Tari Srimpi Gaya Yogyakarta.

Selain mendapatkan materi tari Srimpi Pandelori, juga diajarkan materi tari Srikandhi – Larasati, sebagai bahan tambahan materi tari dalam proses pembelajaran di kelas.

Adapun uraian materi Tari Srimpi Gaya Yogyakarta ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

Sinopsis Tari Srimpi Pandelori:

Tari Srimpi Pandelori adalah tari kelompok yang ditarikan oleh 4 orang penari putri. Tari ini menceritakan kisah dari negeri Arab, yang mengisahkan tentang pertempuran antara Dewi Sudarawerti dan Dewi Sirtupilaeli, yang keduanya memperebutkan seorang pangeran dari Arab, yaitu Wong Agung Jayengrana. Keduanya ingin diperistri oleh Wong Agung Jayengrana. Dalam pertempuran itu tidak ada yang kalah maupun menang, sehingga kedua putri tersebut akhirnya bersaudara dan menjadi istri Wong Agung Jayengrana.

RAGAM GERAK  TARI   SRIMPI  PANDELORI

No.

Ragam  gerak

1.

Sembahan sila, seleh, ndhodhok. Berdiri, panggel, nggrudha (1x), mayuk jinjit. Nggrudha (3x) seblak noleh.

2.

Sendhi gedrug kiri ajeng-ajengan.

3.

Lampah sekar tawing kanan, tawing kiri, kengser, tekuk tangan kiri encot, gedrug kanan, pendhapan cangkol udhet (kiri).

4.

seleh kanan, sendhi minger adu kanan, cathok kanan-kipat. Pudhak mekar (seduwa kiri, kanan methentheng), mancat kanan encot 2x, sendhi ngracik adhep-dhepan, gedrug kanan maju, gedrug kiri seleh.

5

tinting kanan (diagonal) encot, tinting kiri (tukar tempat), nglereg cathok kanan, kipat.

6.

Mandhe udhet
7. Trisik (kembali tempat hadap belakang), maju kanan kipat kanan.

8.

Ulap-ulap encot lamba, mancad kiri, sendhi minger.

9.

Ngenceng encot 1x, sendhi maju kiri, minger, mayuk jinjit (berhadapan). Gedrug kanan nglereg, gedrug kiri ambil keris, gedrug kanan

10.

pendhapan minger kanan seleh tangan kanan, usap suryan dg. keris, mancad kiri

11.

trisik puletan, kembali tempat (berdekatan), nyuduk, encot-encot, nyuduk.

12

Pendhapan puletan, pindah tempat

13.

Nyuduk, kengser ndhesek, 1-2 kanan ke, 3-4 ke kiri

14.

2 dan 3 nyuduk, 1 dan 4 endha, 2 mengejar1, 3 mengejar 4,  trisik puletan, kembali tempat berdekatan, nyuduk, mundur bersama.

15.

maju kiri seleh kiri, gedrug kanan mancad kanan encot-encot,ingsut, encot-encot mancad gedrug kanan nglereg kanan, gedrug kiri nyarungken keris.

16.

Nyamber puletan, kicat boyong, nggrudha jengkeng 1x, sendhi nglayang, nyembah, sila panggung. Sembahan ndhodhok, berdiri, kapang-kapang masuk, selesai


Pembinaan Seni Karawitan Klasik Pegongan Pada Sekaa Sekaa Gong Kerthi Budaya Banjar Pengabetan Kuta, Kabupaten Badung

Pembinaan Seni Karawitan Klasik Pegongan Pada Sekaa Sekaa Gong Kerthi Budaya Banjar Pengabetan Kuta, Kabupaten Badung

    Kiriman I Gede Yudartha, SS.Kar., M.Si

I Gede Yudartha

I Gede Yudartha

Seni Sekaa Gong Kerthi Budaya adalah salah satu unit organisasi sosial kemasyarakatan yang terdapat pada lingkungan Banjar Pengabetan Kuta, Kabupaten Badung. Sebagai salah satu organisasi sosial kemasyarakatan, sekaa gong ini memiliki tugas dan tanggung jawab di bidang seni karawitan yaitu melaksanakan fungsi dan kewajiban untuk mengiringi aktivitas ritual keagamaan serta aktivitas sosial lainnya yang terjadi di lingkungan banjar Pengabetan dan di Desa Adat Kuta.

Sekaa gong ini didirikan pada tahun 1978 dan keberadaannya sangat eksis di masyarakat dimana dalam jangka waktu 30 tahun usianya serta dengan dukungan 50 orang anggota, sekaa gong ini telah menunjukkan peran yang sangat penting dan menjadi salah satu sekaa gong yang terkemuka di lingku-ngan Desa Adat Kuta. Salah satu prestasi yang sangat penting dicapai adalah keberhasilan memenangkan seleksi gong kebyar se Kabupaten Badung dan selanjutnya ditunjuk sebagai Duta Kabupaten Badung pada Festival Gong Kebyar tahun 1993. Keberhasilan sekaa gong ini mencapai prestasi tersebut tidak terlepas dari adanya suatu sistem pembinaan yang berkelanjutan dari gene-rasi ke generasi, dan dibina oleh seniman-seniman yang profesional di bidang seni karawitan. Pada awal berdirinya hingga tahun 1980-an sekaa gong ini mendapatkan pembinaan dari Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar dengan materi fragmentari Ramayana yang mana dari pembinaan tersebut selanjutnya dipertunjukan kepada para wisatawan. Dari penyelengga-raan aktivitas tersebut, sekaa gong ini mampu meningkatkan perekonomian, yang mana hasil dari pagelaran tersebut dipergunakan untuk mensejahterakan anggota serta membangun Balai Banjar Pengabetan.

Sebagaimana umumnya kehidupan sosial masyarakat Bali, di lingkungan Desa Adat Kuta khususnya di Banjar Pengabetan, religiusitas masyarakatnya sangat tinggi dimana pelaksanaan upacara serta berbagai aktivitas keagamaan dapat di langsungkan dengan baik. Walaupun sebagaian besar masyarakatnya beraktivitas di sektor kepariwisataan dan hidup dari pelayanan jasa, perdagangan, dan perhotelan, kehidupan dan aktivitas di bidang sosial keagamaan masih berlanjut sebagaimana telah diwariskan oleh para leluhur mereka.

Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut salah satu sarana dan media yang sangat penting adalah gamelan serta repertoar tabuh-tabuh klasik pengiring pelaksanaan upacara khususnya tabuh-tabuh lelambatan klasik pegongan. Sebagaimana telah diuraikan di atas, keberadaan sekaa Gong Kerthi Budaya memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan keagamaan baik di lingkungan banjar maupun di desa adat Kuta. Untuk keperluan tersebut, saat ini banyak repertoar komposisi lelambatan klasik yang telah dikuasai diantaranya: tabuh pisan, tabuh dua, tabuh telu, dan tabuh nem. Walaupun demikian, sebagai salah satu sekaa gong terkemuka di kawasan Kuta, sekaa gong ini memiliki motivasi dan keinginan yang tinggi untuk menambah perbendaharaan repertoar tabuh untuk dapat menampilkan tabuh-tabuh lelambatan klasik yang berbeda dengan repertoar yang telah dimiliki sebelumnya.

Untuk itu kami dihubungi dan diminta secara pribadi untuk memberikan pembinaan dan menuangkan materi tabuh lelambatan. Adanya permintaan tersebut tentunya merupakan suatu tantangan dan untuk dapat memenuhi apa yang diinginkan kami mencoba memberikan materi yang berbeda dengan apa yang telah dimiliki sebelumnya. Adapun materi yang kami pilihkan adalah dua buah tabuh dua lelambatan pegongan, serta salah satu komposisi tabuh pat lelambatan.

Komposisi tabuh pat Lokaria ini pada mulanya berbentuk tabuh lelambatan pegongan kreasi yang diciptakan oleh I Wayan Sinti. Dipilihnya tabuh lelambatan ini di samping untuk dapat dipergunakan sebagai tabuh ingingan upacara, juga sebagai salah satu upaya revitalisasi dan merekon-struksi keberadaan komposisi tersebut, mengingat keberadaannya semenjak usai ditampilkan dalam festival tidak pernah dimainkan dan sudah mulai dilupakan oleh sekaa gong tersebut. Untuk dapat ditampilkan sebagai pengiring upacara keagamaan tentunya harus diadakan penyesuaian dengan mengadakan beberapa perubahan terutama aspek musikalitas serta penye-derhanaan teknik permainan instrumen sehingga nantinya mengarah kepada bentuk tabuh lelambatan pegongan klasik.

Dalam upaya merubah bentuk komposisi ini menjadi sebuah komposisi lelambatan klasik, di samping mengadakan penyederhanaan, di sisi yang lain juga dilakukan dengan memberikan ornamentasi pada beberapa bagiannya sehingga penampilannya tidak saja terkesan klasik namun mampu memberi-kan nuansa baru sebagai salah satu bentuk tabuh lelambatan klasik. Salah satu bentuk perubahan yang dilakukan adalah dengan mempergunakan 2 (dua) periring yang ditempatkan pada bagian awal gending pengawak dan bagian akhir gending pengisep, dengan tujuan untuk memberikan keragaman dinamika sehingga tidak tampil monoton.

Penyajian model 2 (dua) periring umumnya dilakukan pada komposisi tabuh lelambatan kreasi, dimana bentuk periring tersebut ditempatkan pada bagian depan sebelum menginjak bagian pengawak dan pada bagian akhir pengisep yang menghantarkan ke bagian berikutnya, yaitu bebaturan (pengecet). Komposisi dengan model dua periring ini belum pernah dilakukan dalam penyajian tabuh lelambatan klasik gaya Badung, dimana pada umumnya hanya mempergunakan satu periring yang ditempatkan pada bagian awal dari pengawak. Sebagai salah satu karya komposisi yang lahir dari seniman Badung, walaupun terjadi perubahan serta diberikan ornamentasi pada beberapa bagiannya, penampilannya sebagai salah satu bentuk tabuh lelambatan gaya Badung masih tetap dipertahankan sebagaimana bentuk-bentuk tabuh lelambatan yang lainnya sehingga tidak tercabut dari akar tradisi yang melahirkannya.

Tujuan dari kegiatan ini di samping untuk menjawab rumusan masalah di atas, juga sebagai salah satu upaya untuk merevitalisasi dan merekonstruksi salah satu bentuk karya seni yang pernah ada dan dimiliki oleh sekaa gong Kerthi Budaya sehingga memiliki suatu bentuk komposisi tabuh lelambatan klasik dengan nuansa baru serta tetap berpijak pada akar tradisi gaya bebadungan yang nantinya dapat disajikan sebagai tabuh instrumental dalam mengiringi rangkaian upacara keagamaan dan aktivitas sosial lainnya.

Dilaksanakannya kegiatan ini secara umum diharapkan dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat Banjar Pengabetan serta sekaa Gong Kerthi Budaya sehingga keberadaannya sebagai salah satu sekaa gong terkemuka di desa Adat Kuta masih dapat dipertahankan.

Sedangkan di pihak lain, keterlibatan kami selaku pembina dan bagian dari civitas akademika ISI Denpasar dapat mempererat hubungan secara pribadi serta antara Lembaga ISI Denpasar dengan masyarakat khususnya sekaa gong Kerthi Budaya, Banjar Pengabetan Kuta sebagaimana yang telah terjalin dari tahun 1980-an.

Sebagai salah satu pembinaan yang bersifat kolektif, kegiatan ini tentunya melibatan banyak orang terutama anggota sekaa gong serta berbagai pihak terkait seperti prejuru banjar (Kelian Adat) beserta jajarannya. Namun demikian untuk memperlancar dan mempercepat proses pembinaan, secara khusus ada beberapa orang anggota sekaa yang dianggap mampu, diberikan materi secara intensif sehingga nantinya dapat ditularkan kepada anggota sekaa yang lainnya.

Metode yang diterapkan dengan cara meguru kuping dan meguru panggul. Walaupun terkesan tradisional, metode ini memiliki keunggulan, efektif dan efisien serta secara turun menurun di terapkan oleh para seniman-seniman karawitan Bali dalam aktivitas pembinaan yang dilakukannya. Meguru kuping dan meguru panggul adalah metode tradisional yang biasanya diterapkan secara bersamaan pada saat dilaksanakan pelatihan. Metode ini sangat berbeda dengan sistem pembelajaran musik sebagaimana umumnya yang sangat tergantung pada partitur. Suatu kebiasaan dalam memainkan komposisi karawitan Bali adalah dengan menghandalkan hapalan tanpa pernah dibantu dengan partitur. Sebagaimapun tingkat kesulitan, kerumitan dan panjang pendeknya sebuah komposisi adalah merupakan hal yang sangat biasa dilakukan oleh para seniman-seniman karawitan Bali. Dengan kemampuannya tersebut para seniman penyaji di Bali dikenal memiliki tingkat hafalan yang sangat baik.

Meguru kuping adalah metode yang dilakukan memberikan contoh-contoh melodi yang diperdengarkan secara langsung dihadapan orang-orang yang diberikan pelatihan. Sedangkan meguru panggul adalah dengan memberikan contoh-contoh teknik permainan instrumen secara langsung yang nantinya diikuti oleh para peserta pelatihan. Penerapan metode ini biasanya berulang-ulang hingga para peserta pelatihan dapat memahami dan mengikuti apa yang telah dicontohkan.

DAFTAR PUSTAKA

Astita, I Komang.1993. Gamelan Gong Gede: Sebuah Analisis Bentuk. Mudra, Jurnal Seni Budaya, Edisi Khusus Februari 1993. Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar: STSI Press.

Rembang, I Nyoman.1984/1985. Hasil Pendokumentasian Notasi Gending-Gending Lelambatan Klasik Pagongan Daerah Bali. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Proyek Pengembangan Kesenian Bali.

Sukerta, Pande Made.1998. Ensiklopedi Mini Karawitan Bali. Sastrataya-Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) Bandung-Indonesia.

Yudarta, I Gede. 2007. “Tabuh Lelambatan Pegongan Gaya Badung: Kontinuitas dan Perubahannya”. Laporan Penelitian Due-Like Batch IV Sekolah Tinggi Seni Indonesia/ ISI Denpasar.

Discografi Rekaman Audio.

  1. Festival Gong Kebyar se Bali 1993, Kabupaten Badung. Bali Stereo No. B 585

  2. Festival Gong Kebyar se Bali 1994. Kabupaten Badung. Bali Stereo No. B 895

  3. Festival Gong Kebyar se Bali 2006. Kota Denpasar. Bali Stereo No. B 1185

Gamelan Gambang Dalam Upacara Dewa Yadnya

Gamelan Gambang Dalam Upacara Dewa Yadnya

Kiriman I Gede Yudartha, SSKar., MSi

Dosen Program Study Seni Karawitan

Gamelan Gambang

Gamelan Gambang

Dewa Yadnya berarti persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa dengan berbagai manifestasinya. Pelaksanaan upacara Dewa Yadnya biasanya dilakukan di tempat-tempat pemujaan seperti sanggah¸tempat pemujaan keluarga dan pura yang merupakan tempat persembahyangan bagi masyarakat umum atau klen dari keluarga tertentu. Dalam ritual upacara yang dilakukan di pura-pura atau tempat sanggah, dalam suatu tingkatan tertentu biasanya diiringi dengan seperangkat atau lebih gamelan Bali. Adapun gamelan yang biasanya dipergunakan adalah gamelan Gong Gede, Gong Kebyar, Smar Pagulingan, dan berberapa jenis gamelan lainnya termasuk salah satu diantaranya adalah gamelan Gambang.

Dalam pelaksanaan ritual upacara salah satu kesenian yang menonjol penggunaannya adalah seni karawitan. Bunyi gamelan yang digunakan untuk mengiringi ritual keagamaan adalah untuk membimbing pikiran agar terkosentrasi pada kesucian, sehingga pada saat persembahyangan pikiran dapat diarahkan atau dipusatkan kepada Tuhan. Pandangan ini relevan dengan realita kesakralan, karena bunyi gamelan secara psikologis dipandang mampu menciptakan suasana relegius secara sakral. Selain dari pada itu, keterpaduan antara tabuh yang dimainkan dengan pelaksanaan upacara dapat menciptakan suatu keharmonisan atau keseimbangan dalam hidup. Terciptanya keseimbangan ini, dapat dilihat bagaimana penganut agama Hindu menggunakan nilai-nilai estetika untuk menciptakan suatu keharmonisan dan keseimbangan hidup guna mencapai sesuatu yang bersifat religius.

Dipergunakannya gamelan sebagai sarana pengiring upacara karena esensinya adalah untuk membimbing pikiran umat ketika sedang mengikuti prosesi agar terkonsentrasi pada kesucian sehingga pada saat persembahyangan pikiran terfokus kepada keberadaan Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi). Jadi jelas bahwa dalam konteks tersebut gamelan memiliki nilai religius dimana keberadaan gamelan sebagai pengiring upacara keagamaan di suatu wilayah suci hal tersebut dapat menambah religiusitas sebuah prosesi keagamaan. Nilai religius yang dimaksud adalah bahwa gamelan khususnya repertoar-repertoar yang dimainkan memiliki nilai yang sangat penting dalam pelaksanaan aktivitas keagamaan. Hampir tidak ada satupun pelaksanaan upacara keagamaan yang dilakukan tanpa diiringi oleh bunyi-bunyi gamelan.

Lebih lanjut sebagaimana dikatakan Donder (2004:122), hakikat bunyi gamelan pada prosesi ritual Dewa Yadnya antara lain sebagai:

  1. Sebagai persembahan untuk menyenangkan hati para Dewa/Ista Dewata (roh suci)

  2. Sebagai sarana magis untuk mengundang kekuatan spiritual.

  3. Sebagai sarana untuk menetralisir pengaruh negatif.

  4. Untuk mengurangi ketegangan atau emosi

Gamelan Gambang

Gamelan Gambang sedang di tabuh

Dimanfaatkannya Gamelan Gambang sebagai musik pengiring upacara Dewa Yadnya secara umum dapat dimaknai bahwa, gamelan Gambang memiliki makna religius.Terkait dengan fungsi gamelan Gambang dalam konteks upacara Dewa Yadnya, di wilayah Kota Denpasar, pada kenyataannya berbeda dengan pandangan-pandangan serta pemahaman masyarakat selama ini. Sebagaimana diuraikan dalam penelitian-penelitian sebelumnya, di Bali bagian tengah Gambang dipergunakan sebagai musik pengabenan yang dimainkan selama tiga hari berturut-turut (Dibia, 1978/1979). Pernyataan ini sangat berbeda dengan kenyataan yang terjadi di lapangan dimana gamelan Gambang di wilayah Kota Denpasar yang merupakan daerah yang terdapat pada wilayah Bali bagian tengah, Gambang juga dipergunakan sebagai musik pengiring upacara Dewa Yadnya. Sesuai dengan informasi dari I Nyoman Sukra, selaku klian Gambang Pura Kelaci, Banjar Sebudi Desa Sumerta Klod, sebagai salah satu aset atau duwe (milik) Pura Kelaci, gamelan Gambang yang tersimpan di pura biasanya dipergunakan untuk mengiringi piodalan atau upacara keagamaan yang dilangsungkan bertepatan dengan Hari Raya Saraswati yaitu Saniscara Umanis Watugunung. Bahkan gamelan ini dimainkan berturut-turut selama tiga hari selama Ida Betara di Pura tersebut Nyejer.

Demikian pula halnya gamelan Gambang yang terdapat di Pura Dalem Bengkel, Banjar Binoh. Menurut penuturan I Wayan Sinthi dan I Nyoman Jesna Winada (wawancara tanggal 12 Desember 2009) selaku sesepuh di pura tersebut, keberadaan gamelan Gambang di pura tersebut lebih banyak difungsikan sebagai sarana pengiring upacara yadnya yang dilangsungkan di pura tersebut. Bahkan keberadaannya sangat disakralkan sehingga tidak pernah dipergunakan untuk mengiringi upacara pitra yadnya (ngaben) karena pelaksanaan upacara tersebut dianggap sebel dan dapat mengurangi kesucian dari gamelan tersebut.

Sama halnya dengan keberadaan gamelan Gambang di Pura Dalem Bengkel, di Banjar Bekul Penatih. Gamelan Gambang yang dimiliki oleh masyarakat setempat juga sempat difungsikan sebagai sarana pengiring upacara Dewa Yadnya yang dilaksanakan di sekitar wilayah Desa Penatih dan Desa Kesiman. Sebagaimana penuturan I Nyoman Warka (wawancara tanggal 18 Desember 2009) selaku klian Gambang Banjar Bekul, pada masa yang lampau pada saat piodalan di pura Dalem Kesiman dan di Pura Pengrebongan yang merupakan sebuah pura yang disungsung oleh masyarakat Desa Kesiman, atas permintaan raja yang berkuasa di Puri Kesiman, sekaa Gambang Banjar Bekul diminta untuk berpartisipasi dengan sukarela (ngayah). Namun seiring dengan perjalanan waktu dan situasi kondisi yang ada, sekaa Gambang tersebut tidak pernah lagi berpartisipasi secara aktif pada event tersebut. Saat ini sekaa Gambang di Banjar Bekul hanya berpartisipasi pada saat dilaksanakannya upacara pitra yadnya dalam tingkatan utama (ngewangun) baik di Gria Bajing Kesiman maupun di Puri Kesiman hal ini dikarenakan Gamelan Gambang yang mereka miliki merupakan pica (pemberian), dimana sebagai imbalan atas pemberian tersebut, sekaa gambang memiliki kewajiban untuk berpartisipasi secara aktif.

Kurikulum Berbasis Kompetensi oleh: Prof. Drs.Dewa Komang Tantra, Dip.App.Ling,MSc,Ph.D

Kurikulum Berbasis Kompetensi oleh: Prof. Drs.Dewa Komang Tantra, Dip.App.Ling,MSc,Ph.D

ABSTRAK

Prof. Dewa Komang Tantra

Prof. Dewa Komang Tantra

Kompetensi merupakan sebuah konsep yang masih sering diperdebatkan secara sengit, tergantung siapa yang menggunakan konsep itu. Pendukung kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yakin bahwa KBK dapat meningkatkan pendidikan atau pelatihan dan persyaratan kerja. KBK bersifat individualis, lebih menekankan outcomes (apa yang diketahui dan dapat dilakukan oleh seorang individu). KBK memperjelas apa yang harus dicapai dan standar apa yang digunakan untuk mengukur pencapaian tersebut. Secara teoritis, KBK menyelesaikan pembedaan antara tangan dan pikiran, teori dan praktek, dan pendidikan umum dan vokasional. Pengritik KBK,  menengarai KBK sangat simplistis, berpendekatan kompetensi tunggal, terlalu mahal, birokratis, sarat beban, dan memerlukan banyak waktu. Terlepas dari kelemahan (internal) dan kendala (eksternal) tersebut, KBK merupakan sebuah  pendekatan dalam pengambilan kebijakan dalam pendidikan.  Maka dari itu, prinsip dasar yang harus digunakan untuk menjadikan KBK sebuah realita dalam pendidikan nasional kita, dan bukan sebuah mitos adalah dengan mengubah kelemahan dan kendalanya  menjadi sebuah kekuatan dan peluang.

Kata kunci : kurikulum berbasis kompetensi, mitos, realita.

Makalah Lengkapnya

Loading...